Showing posts with label di jalan yang benar. Show all posts
Showing posts with label di jalan yang benar. Show all posts

April 18, 2013

Hari Gini, Nyontek?

Another unproductive day.

Hari ini seharusnya UTS matkul Paper Presentation jam tiga sore. Udah mandi (akhir-akhir ini gue jadi rajin mandi, loh), pake baju rapi, dateng ujan-ujanan dan mati-matian melawan rasa males, eh..... begitu nyampe kampus, dosennya entah kenapa membatalkan UTS itu. Huft banget. Sayang banget bajunya. Besok gue pake lagi lah......
Dan gue baru saja menghadiri acara evaluasi Makrab Sasing'12. Waktu dibilang anak-anak dekor gak ada di tempat waktu siap-siap beberapa jam sebelum acara karena ada kelas di bawah jam dua belas, awalnya gue mau protes, karena kayaknya gue bolos kelas di bawah jam dua belas. Eh... gue lupa, kalo pada hari itu, gue bolos bukan karena siap-siap, tapi karena gue baru bangun tidur jam setengah satu siang. Dan langsung ada kelas jam satunya.. Aku khilaf. :")

Btw selamat ya adik-adik kelas tiga SMA yang hari ini selesai menempuh Ujian Nasional. Gimana? Gampang, kan? Ngerjain sendiri tanpa nyontek juga 'kecil', kan? Sekarang libur deh lo tiga bulan... (iri) Semoga lulus ya, adik-adik. Dan buat yang mau melanjutkan studi ke Unpad, gue tunggu ya. :-D

Di post kali ini, gue mau ngebahas tentang 'nyontek'.

Sumber: DISINI.

'Menyontek adalah kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan cara yang tidak halal.' demikian satu dari banyak pengertian tentang 'menyontek' yang gue dapatkan dari KajianPustaka.com. Selain itu, ada juga yang bilang 'Menyontek adalah pembodohan'. Gue setuju. Menyontek adalah bibit kebodohan.

Dan gue baru aja nemu draf yang gue bikin pada tanggal 18 April 2012. Yak. Tepat setahun yang lalu! Begini isinya:


Halo

Hari ini hari ketiga Ujian Nasional. Sisanya tinggal besok, pelajaran Geografi dan Sosiologi.

Dan puji Tuhan semesta alam, sampai detik ini gue gak nyontek sama sekali. Ye! Emang harusnya gini kan. Prinsip gue, nilai ujian itu nilai dunia, tapi kejujuran itu nilai di akhirat nanti. Jadi, buat apa nyontek biar nilai di dunia ini bagus, padahal nyontek sendiri itu menjelekkan nilai di akhirat. Serem, kan? Makanya, jangan nyontek.


Kalo boleh jujur, gue gak terlalu suka sama orang yang hobi nyontek. Apalagi orang yang berserah sepenuhnya bukan ke Tuhan, tapi ke contekan. Idih. Ya, gue tau, Ujian Nasional itu emang penting, menentukan lulus atau tidak lulus. Tapi bukan berarti melegalkan kegiatan contek-menyontek, kan?


Dan yang lebih menyedihkan adalah, guru yang mendorong anak didiknya untuk nyontek. Namanya disamarkan menjadi Mawar. Nah, jelang UN, Bu Mawar datang ke kelas lalu berkata dengan kata-kata yang mendukung kegiatan contek-menyontek, gue lupa seperti apa yang jelasnya. Gue gak nyangka banget ada guru yang membenarkan kegiatan salah semacam menyontek. Sejak saat itu gue jadi gak punya respect lagi sedikitpun sama dia. Nah! Manusia seperti Bu Mawar inilah yang harus direhabilitasi pola pikirnya kalo mau Indonesia bebas ‘hama’. Nyontek itu korupsi kecil-kecilan. Dan kita tau peribahasa, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Awalnya mungkin korupsi dengan menyontek. Nanti? Korupsi duit rakyat. Amit-amit..


Gue bukannya mau temen seangkatan gue ada yang gak lulus. Tapi, kenapa harus nyontek? Tiga tahun di SMA masa sih gak ada ilmu yang nyangkut di otak? Dan, kalo orang kayak gue aja (yang gak ikut bimbel, jarang PM, sering gak ikut pelajaran, dan lainnya) bisa ngerjain ujian tanpa nyontek, kenapa kalian enggak? 

Gue mau kita lulus bareng-bareng, tapi pake cara jujur. Mungkin jalan pikiran ini kolot, tapi kalo kita berkomitmen untuk tidak melakukan dosa, Tuhan pasti bantu kita, kok. Dan gue yakin, Tuhan gak akan mempermalukan umatNya yang berada pada jalanNya. Amin?


TIDAK untuk nyontek!

Oh ya, jika di luar sana ada guru-guru lain yang berpola pikir seperti Bu Mawar, semoga segera dipulihkan Tuhan.

Hahaha. Jadi pengen balik ke masa itu lagi, deh. Agak heran juga, soalnya tepat tanggal segitu gue besoknya masih UN, tapi sempet aja bikin draf ginian di laptop. Bukannya belajar.... Tapi mending gini sih, daripada malem-malem nyiapin contekan. Cupu abis, gak punya nyali buat percaya sama kemampuan diri sendiri. Hahaha, kasian, jadi iba.. :") (Bukannya jahat, gue cuma ngerasa orang yang nyontek itu pantes kok buat dikatain. Apakah ada yang ngerasa jalan pikiran gue ini salah? Silakan dibenerin deh kalo gitu..)

Kalo ada yang tersinggung sama post ini, saran gue: Tobat gih! Gue juga pernah kok ngerasain nyontek. Gak enak, dihantui perasaan bersalah, dan nilai sempurnapun gak bikin gue bangga. Tapi itu dulu banget dan (puji Tuhan) cuma sebentar. Sekarang gue udah tobat. Kalo kalian (yang masih nyontek sampe sekarang), kapan tobatnya? :-)

Kalo quote-nya Catatan Akhir Sekolah, bunyinya kayak gini: (well, gak berlaku sih buat orang yang nyonteknya nyalin punya orang.)
Saya gak pernah nyontek. Soalnya nyontek itu gak efektif. Ketika kamu buat contekan, otomatis kamu juga ngapal. Jadi ngapain nyontek
 Hari gini, nyontek?

December 07, 2012

Spontanitas



Wah, sudah bulan Desember lagi—sudah di penghujung tahun lagi. Ini... gue yang terlalu santai, atau waktu yang terlalu cepet, sih?

Ada banyak sekali rencana sekilas (hanya melintas di otak aja, contohnya, “Gue mau ngelakuin ini ah”) yang belum tercapai dari awal 2012 sampai detik ini. Soal dunia tulis-menulis, misalnya. Tahun ini gue tidak menghasilkan apa-apa kecuali postingan di blog. Padahal sebenernya gue pengen ngirim cerpen ke majalah lagi(honornya lumayan, bro). Kesulitannya adalah, otak gue belum cukup dewasa untuk mampu membuat cerpen ‘berat’, sementara kalo bikin cerpen-cerpen a la anak SMP-SMA, gue malah ngerasa kacangan. Dilema. Juga soal dunia kuliah, gue nggak tau kenapa malah nyasar di Sastra Inggris—padahal maunya Seni Rupa, tapi gue juga nggak tau kenapa gue menuliskan Sastra Inggris sebagai pilihan pertama di SNMPTN tulis.
Ada apa dengan.. otak.. saya?

Sejauh ini, gue selalu nurut aja sama segala hal tiba-tiba yang ada di kehidupan gue. Tiba-tiba lulus SMA, tiba-tiba lolos SNMPTN, tiba-tiba dapet kosan tanpa nyari, tiba-tiba cinta datang kepadaku¯. Gue akui, gue adalah pemalas akut. Gue jarang sekali berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu, gue lebih banyak cuma berusaha dengan kadar yang gue inginkan(tentu saja yang tidak membuat gue lelah) kemudian berserah. Dan sejauh ini, banyak hal tiba-tiba yang datang menyapa, dan kebanyakan langsung gue iyakan.

Tiba-tiba saja hidup gue jadi hidup yang penuh dengan kejadian-kejadian spontan. Dulu, waktu kecil, setiap ditanya mau jadi apa, gue jawab “Mau jadi pelukis!” Nah, sekarang, mungkin gue nggak akan jawab seyakin itu. Jadi apa aja yang jujur? Kedengerannya terlalu religius, ya. Tapi emang harusnya gitu, kan?  Dan gue—sekarang ini—lebih sering menjawab, “Liat aja nanti.” Kedengerannya kayak orang nggak punya tujuan hidup? Lah, tujuan hidup semua orang kan, mati terus masuk surga? Nggak usah pengen punya, emang udah punya dari sononya kok. Dan, emangnya ada orang yang nggak mau masuk surga? Jadi, sebelum ‘tujuan hidup’ itu tercapai, mungkin aja gue akan menjadi pelukis, penulis, desainer, mahasiswa seni, dan siapa yang bisa menjamin kalo gue nggak mungkin jadi astronot atau ilmuwan? Ya, meskipun itu khayalan tingkat dewa, tapi... who knows? Kalo tiba-tiba Tuhan berkehendak agar gue menjadi seorang supir angkot, gue bisa apa? Ya, paling nyupir angkot jadi kerjaan sampingan, kalo lagi bosen di kantor Apple. (kan gue juga bisa jadi CEO Apple?)

Jadi, inti dari curahan hati gue di post kali ini adalah... bahwa gue bisa menjadi apa aja, kapan aja, dan gue tidak pernah menargetkan atau meresolusikannya untuk terwujud dalam kurun waktu tertentu. Yang bisa gue lakukan hanya usaha, kalo bisa yang nggak bikin capek. Sisanya? Berserah. Gue nggak mau terlalu ambisius dengan sesuatu yang gue harapkan, supaya gue tetap bisa tersenyum saat banyak hal tiba-tiba yang tanpa gue sadari, datang menghampiri gue. Tuhan tahu tentang gue lebih daripada gue mengetahui diri gue sendiri. 


He knows the answers of all our unanswered questions; the solutions of all our unsolved problems.


Selamat malam. Coba deh: tutup mata lo, bayangkan semua hal yang sudah terjadi—yang sebetulnya di luar rencana lo, tapi lo menikmatinya. Dan jangan lupa, .....tersenyumlah! :-D

P.S.
(.....gue bijaksana banget, ya?)(Terharu sendiri)(Dibakar massa)

September 19, 2012

Memaafkan


Semalam gue berbincang-bincang dengan seorang teman via sms. Teman gue ini, kita samarkan saja namanya menjadi Bunga. Jadi, Bunga memberitahukan kepada gue bahwa dia mendapatkan chat dari seorang teman kami semasa SMP dulu, sebut saja Rian(bukan nama sebenarnya)(jadi kayak reportase investigasi).

Semasa sekolah, Rian adalah anak yang cenderung dijauhi oleh gue dan teman-teman. Oke. Ini emang jahat, tapi yang namanya manusia memang pasti pernah salah, kan? Gue manusia juga loh, fyi. Jadi, anak-anak cewek menjauhi dia karena tidak mau dikatain, sementara anak-anak cowok seneng ngerjain dia. Sepengetahuan gue, hanya ada beberapa orang yang berteman dengan dia. Well, maybe it would have been so hard for him to survive. Denger-denger sih sejak lulus SMP, dia punya komunitas. Survival-nya yang sulit sudah berakhir sejak 4 tahun yang lalu, berarti. Seinget gue, kami udah pernah minta maaf, kok, ke dia.

Jadi, Bunga bercerita setiap detail chat-nya dengan Rian. Intinya, Rian berkata bahwa dia kepahitan(semacam benci karena kecewa) kepada teman angkatannya semasa SMP, berarti termasuk gue dan Bunga. Dia bilang, dia ingat betapa bencinya setiap orang yang harus duduk semeja sama dia, termasuk Bunga. Hal ini tentu saja membuat Bunga merasa tidak enak. Saat Bunga mengutarakan ke-tidakenak-annya kepada Rian, dia malah menjawab agar Bunga tidak perlu merasa tidak enak, dia juga bilang terima kasih buat sikap kami yang seperti itu terhadap dia.

JEGER! Gue tersentuh? Tidak sama sekali. Dia yang membawa-bawa permasalahan masa lalunya, dia yang memancing Bunga sampai Bunga merasa bersalah, kemudian dia juga yang dengan sok bijak menjawab seperti itu, seakan-akan dia tidak pernah mengungkit masa lalu yang mungkin memang kesalahan gue, Bunga, dan teman-teman lainnya. Seakan-akan Bunga tiba-tiba merasa tidak enak padahal Rian tidak pernah berkata apa-apa soal masa lalunya.

Dia pemaaf? Apakah orang yang memaafkan bertindak seperti itu? Menurut gue sih, enggak. Kalo seseorang udah memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia dengan ikhlas, dia tidak akan pernah mengungkit-ngungkit lagi kesalahan orang itu di masa lalu. Kesalahan orang kepada kita, bukan merupakan hal yang bagus untuk diingat dan dikenang, apalagi kalo kesalahan itu sudah kita anggap termaafkan. Buat apa diungkit-ungkit lagi? Tujuan mengungkit-ngungkit kesalahan orang lain kepada kita di masa lalu itu menurut gue hanya ada dua. Satu, membuat orang itu merasa bersalah atau malu(lagi). Dan dua, karena kita ingin orang itu minta maaf(lagi).

Sikap Rian yang seperti itu, bagi gue adalah sebuah kemunafikan. Dengan mengungkit-ngungkit kesalahan kami di masa lalu, menurut gue, mungkin dia belum memaafkan kami. Dia yang memulai chat dengan Bunga, membahas kesalahan-kesalahan Bunga, kemudian saat Bunga merasa tidak enak, dia menjawab dengan jawaban yang seolah-olah Bunga-lah yang membahas semua kesalahannya sendiri. Kalo emang dia belum bisa memaafkan kami, kenapa dia nggak jujur aja? Dan kenapa juga dia harus berterima kasih segala? Biar orang-orang kagum sama ‘kemurahan hati’nya? Kalopun emang dia sudah memaafkan kami, perbuatannya tidak mencerminkan demikian. Gue masih belum percaya kalo dia sudah memaafkan. Yang penting gue udah pernah minta maaf. Dia mau memaafkan atau tidak, itu bukan urusan dia sama gue sih.... itu urusan dia sama Penciptanya.

Pokoknya, bila mungkin ada sebuah coincidence & orang yang gue maksud membaca post ini, gue berharap orang itu ngerti, kalo post ini gue buat bukan dengan maksud mengolok-olok dia, apalagi menghina. Gue cuma pengen memberitahukan dia cara memaafkan yang sesungguhnya menurut versi gue. Thank you!

July 12, 2012

Baik


Halo!
Gue habis dari Jatinangor lho, kemarin, ke tempat gue akan menghabiskan beberapa tahun ke depan sambil menuntut ilmu di Universitas Padjadjaran, Sastra Inggris. Semoga cepet wisuda ya gue, doain!!!
Jatinangor itu.... dingin! Puncak mah kalah dingin. Lucky me, gue tidak perlu mencari kos-kosan ber-AC. Gue berencana menghabiskan satu tahun ke depan di sebuah kos-kosan bernama Wisma Yonita, Ciseke. Too bad, di sana tidak tersedia wi-fi. Paling-paling gue bakal sering ke Jatos buat wifi-an. Selamat datang kehidupan serba irit!!!!!


Oh ya. Sekedar iseng. Barusan gue membuka twitter gue. Di timeline, ada sebuah tweet yang kurang lebih berbunyi:
Buat apa jadi orang baik, tapi tetep dibilang jahat. Mendingan jahat, jahat aja sekalian!
Bukannya bermaksud menggurui atau gimana, gue cuma mau memberikan opini gue soal berbuat baik. Diharapkan tidak membuat pihak manapun tersinggung. :-)

Menurut gue, hanya karena seseorang bilang kalo lo jahat, bukan berarti lo bisa menjadi jahat juga. Bingung? Jadi gini... sebut saja si A. Kalo emang pada dasarnya A emang mau berbuat baik, omongan orang seperti itu tidak akan bisa membuat A jadi tidak berbuat baik. Kalo hanya karena omongan seperti itu A menjadi jahat, berarti dari awal A emang tidak berniat untuk berbuat baik.

Lebih-lebih lagi, kita itu berbuat baik buat siapa sih? Kalo gue pribadi, gue melakukan hal yang gue anggap baik itu ya buat menyenangkan hati Tuhan. Karena tujuan gue seperti itu, mau dibilang orang-orang jahat atau apapun, gue tidak akan goyah, apalagi gue tau memang berbuat baik itu bakal menyenangkan hatiNya. Dengan pondasi seperti itu, gue tidak akan sakit hati meskipun niat baik gue tidak disenangi orang—gue lebih peduli sama apa kata Tuhan dibandingkan kata orang-orang sedunia.

Seperti kata-kata yang gue kutip dari retreat terdahulu; “Kita adalah apa kata Tuhan, bukan apa kata manusia”. Kalo menurut Tuhan itu baik dan benar, buat apa lagi sih, peduli sama kata orang-orang? Manusia—teman, sahabat, pacar, bahkan keluarga lo sendiri—selalu memiliki kesempatan untuk membuat lo kecewa. Tapi yakin deh, Tuhan itu selalu menyenangkan hati lo & tidak akan pernah membuat lo kecewa. Berarti yang paling asik itu ya, selalu dekat sama Tuhan. :-}

Sekian dulu ya. Mohon maaf bila ada pihak yang tersinggung. Mungkin dengan posting ini pihak tersebut bisa mengurungkan niatnya untuk menjadi jahat, kali ya. Soalnya dunia ini butuh orang baik, bukan orang jahat. Jadilah yang berguna untuk dunia dengan cara mudah—berbuat baik!

Selamat malam!

June 17, 2012

Pemenang

Halo. Selamat hari Minggu!

Setelah resmi lulus SMA, resmi jugalah gue menjadi pengangguran.
Kalo ditanya, "Mau kuliah dimana?", gue cuma bisa cengar-cengir doang.

Tapi itu dulu (beberapa hari yang lalu, sih). Lalu...?
Face the reality. Gue ditolak SNMPTN Undangan. Sekarang, gue sudah menjalani serangkaian SNMPTN tertulis yang memabukkan itu, dengan memilih FIB UI & Unpad. Gue sudah berserah sepenuhnya, semuanya silakan Tuhan saja yang mengaturkan jalan.
Permasalahan jurusan, jurusan yang gue pilih itu kayaknya agak favorit deh. Peminatnya ribuan, sementara bangku yang tersedia di bawah 30.
Tapi.... mengutip kata-kata Raditya Dika, gue adalah pemenang. Lebih tepatnya, sperma yang menjadi pemenang.

Sewaktu gue masih berbentuk sperma, gue memperebutkan satu ovum bersama ribuan sperma lainnya. Dan gue menang. Gue yang berhasil masuk ovum itu!
Camkan ini: GUE ADALAH (sperma yang menjadi) PEMENANG!
Gue tidak boleh takut. Dari sebelum lahir aja, gue udah menang dari ribuan lawan. Padahal waktu itu gue bentuknya cuma... (ehem). Apalagi sekarang? Hidup!

Gue sekarang sedang berniat mendaftarkan diri di beberapa universitas swasta di Jakarta, jurusan desain! Wooohoooo! Doakan, ya.
Oh ya, buat temen-temen yang masih menggalaukan universitas (ya..mungkin aja masih ada), saran gue, stop aja galaunya. Gue aja bisa, kalian pasti bisa juga, kok. Mungkin itu emang galau berkualitas ya? Tapi gini deh. Makanan yang berkualitas aja, kalo kelamaan dibiarin, bakal basi, kan? Bakalan hilang kualitasnya. Nah, daripada nanti 'galau berkualitas'nya jadi 'galau tidak berkualitas', mendingan berhenti.
Semua pasti sukses!
Btw, jangan jijik baca post ini. Kita kan sperma yang menang, masa jijik baca kata 'sperma'? ._.v

Salam pengangguran <3

May 27, 2012

Purnasismadya & Kejutan Tak Terduga

SAYA RESMI LULUS SMA!

Pada tanggal 24 Mei sebetulnya sudah beredar rumor yang menyatakan 33 2k12 lulus 100%, tapi pengumuman resminya diumumkan sekolah di acara Purnasismadya, tanggal 26 Mei lalu.

Pada tanggal 26 Mei dini hari, gue dipaksa bangun oleh nyokap—yang mulai berkoar-koar setelah hampir 1 jam belum berhasil memaksa gue bangun, karena seperti kita ketahui bersama, di weekend, gravitasi di kasur menjadi 1000 kali lebih kuat & keposesifan kasur juga jadi kelewatan.

Setelah perdebatan panjang, akhirnya kasur ngalah. Jam setengah enam, gue mandi lalu jam enam lewat sedikit, gue bertolak ke Salon Gaul Aries (beneran, ada ‘gaul’-nya..). Di sana, gue dipoles & rambut gue dijadikan semacam sanggul, tapi rambut asli semua, lho. Gue pikir gue harus pake rambut palsu gitu.

Kemudian setelah dimakeover, nyokap dateng dan membawa gue ke ballroom tempat Purnasismadya dilaksanakan. Di sana gue duduk di barakan 12 Sosial 3 (barakan?). Kami mengobrol mendengarkan sambutan-sambutan kurang penting dari ibu-ibu & bapak-bapak yang sebagian tidak gue kenal karena terlalu asyik mengobrol.

Kemudian, tibalah saatnya pembacaan siswa-siswi yang nilai UN-nya paling bagus. Dimulai jurusan IPA, ada Steven, Yunggih, Disty, Nico, dan Meylia. Selanjutnya IPS. Gue sedang asyik duduk, mengangkat satu kaki ke kursi, tidak memakai sepatu, sambil mengobrol. Gue betul-betul tidak berpikiran gue akan menjadi salah satu dari mereka........sampai nama gue dibacakan oleh Bu Rita. Dzinggg! Bagaikan petir di siang bolong, gue bengong sejenak. Kemudian teman-teman memberi applause. What-an-unexpected-surprise! Malah peringkat satu IPS, pula. Seorang Evita.......... Gue pun naik ke panggung dan disusul oleh Fikri, Mayrian, Agustina, dan Ananda. Terima kasih Tuhan buat kejutannya!


Setelah itu, kami seangkatan mendapatkan medali tanda kelulusan dan foto bersama. Cukup menyentuh lho, saat wali kelas gue, Miss Tanti, memegang tangan gue sambil berkata, “Evita, kamu yang terbaik, selamat ya.” Mata Miss Tanti berkaca-kaca dan merah, dan saat itu pula gue terharu. Mau ikut nangis tapi...makeup ini bisa luluh lantak.

Kemudian pemutaran dokumenter! Ayeeeeeeey! Gue seneng banget temen-temen seangkatan kelihatan menikmati film itu. Syukurlah :’) Btw kalo penasaran, ini gue  masukin videonya. Ada 2 bagian, gak afdol kalo nonton cuma part 1 atau cuma part 2 aja. Silakan!

PART 1

PART 2

Dibalik semua kebahagiaan itu, terselip sebuah duka. Emang, hidup itu seimbang ya, antara suka dan dukanya. Saya tidak lolos SNMPTN Undangan. Ya....Tuhan punya rencana lain yang pastinya jauh lebih baik daripada rencana gue :’)

Mengutip salah satu teenager’s quote yang gue liat di fesbuk;
No matter how much you think you hate school, you’ll always miss it when you leave.

Selamat menempuh kisah selanjutnya, teman-teman seperjuangan! Sukses ada di tangan kita semua! Kalian bakal jadi kenang-kenangan paling indah dari SMA 33 Jakarta. Selamat meneruskan perjuangan!!!