Showing posts with label padjadjaran. Show all posts
Showing posts with label padjadjaran. Show all posts

June 09, 2016

Untuk Mahasiswa yang Sedang Dalam Perjuangan

Halo. Akhirnya, hari ini, saya selesai ngurus revisi dan surat keterangan lulus sudah di tangan. Yay.
Tenaga udah abis bolak-balik dari tukang fotokopi - gedung A sampe berkali-kali. Kenapa sampe bolak-balik? Soalnya, saya kekurangan informasi. Sekalinya dapet informasi, cuma setengah. Jadilah waktu sampe di gedung A, ada aja yang kurang. That sucks. Jadi, tiba-tiba saya kepikiran untuk membuat tulisan khusus untuk membahas apa aja yang perlu disiapkan seorang mahasiswa yang sedang dalam perjuangan, sebelum, saat dan sesudah sidang.


Sebelumnya, perlu diketahui, tulisan yang saya buat ini didasari oleh pengalaman pribadi saya. Tulisan ini tidak saya tujukan kepada mahasiswa secara keseluruhan, melainkan hanya kepada mahasiswa program sarjana Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Indonesia.

Saya mengikuti ujian sidang sarjana pada tanggal 10 Mei 2016 dan selesai mengurus revisi pada tanggal 9 Juni 2016. Saya tidak dapat menjamin bahwa tidak ada perubahan yang terjadi setelahnya. Tulisan ini bertujuan untuk membantu, tapi sebaiknya tetap konsultasi ke dosen pembimbing agar tidak terjadi kesalahan.


Sebelum Sidang
  1. Daftarkan diri di jurusan. Di sana, Anda harus menulis nama beserta judul skripsi pada buku besar milik jurusan. Jangan lupa ambil formulir pendaftaran dan kartu peserta ujian.
  2. Persiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan:
    • Skripsi yang sudah disetujui pembimbing dan Prodi (Berarti, lembar pengesahan harus sudah ditandatangani pembimbing dan ketua jurusan. Saat minta tanda tangan, siapkan langsung 5 lembar dan mintalah dosen menandatangani kelimanya, karena dalam pengalaman saya, lembar pengesahan tidak boleh difotokopi/ di-scan padahal dibutuhkan 5 lembar)
    • Fotokopi KTM yang masih berlaku
    • Foto hitam putih 3x4 sebanyak 5 lembar (Pria: jas lengkap dan berdasi warna kontras/ cerah dan kedua telinga terlihat, Wanita: blazer lengkap warna kontras/ cerah dan kedua telinga terlihat. Lalu di balik foto tuliskan nama dan NPM)
    • Sertifikat TOEFL dengan skor lebih dari atau sama dengan 550 atau sertifikat TOEFL dengan skor lebih dari atau sama dengan 513, namun bersyarat, saya kurang tahu syarat lengkapnya
    • Transkrip nilai dan tanda bukti lunas herregistrasi (Dapat diunduh dari PACIS, di-print, lalu dilegalisir di SBP)
    • Surat bebas pinjaman buku dari universitas, fakultas, dan jurusan (Jumlahnya 3 surat dan pembuatannya cukup mudah, Anda hanya harus mendatangi perpustakaan terkait)
    • Fotokopi akte kelahiran
    • Kartu peserta ujian (Seperti yang sudah diambil di poin 1, kemudian tempelkan pas foto dan isikan data diri)
    • Kartu Berita Acara Bimbingan (Yang sudah ditandatangani pembimbing dan ketua jurusan)
  3. Beberapa berkas kemudian di-scan/ difoto, dan apabila sudah lengkap, diunggah ke laman pendaftaran ujian sidang sarjana. Silakan cek di sini untuk melihat apa saja berkas yang perlu diunggah. Link ini hanya berlaku bagi mahasiswa Sastra Inggris Universitas Padjadjaran. Perhatikan, saya pernah melakukan konsultasi terkait berkas yang tidak lengkap. Jika berkas yang perlu diunggah belum lengkap, sebaiknya tidak melakukan pendaftaran online, karena pendaftaran online dilakukan setelah berkas yang perlu diunggah sudah lengkap. Untuk lebih jelas, sebaiknya tanyakan ke jurusan langsung.
  4. Print-out dari berkas-berkas tersebut harus diserahkan ke jurusan beserta dengan formulir pada poin 1. Apabila ada berkas yang belum lengkap, sebaiknya tanyakan ke jurusan langsung. Bila sangat mendesak, kemungkinan akan diperbolehkan menyusul.
  5. Setelah daftar penguji keluar, segera serahkan skripsi berbentuk print-out (dengan lembar pengesahan bertanda tangan) kepada penguji dan pembimbing beserta dengan SK. Dalam pengalaman saya, SK keluar sedikit terlambat sehingga saya memberikan SK kepada penguji dan pembimbing pada hari H. Perhatikan, SK boleh menyusul pada hari H, tapi skripsi berbentuk print-out tidak.

Saat Sidang
  1. Bawa berkas yang diharuskan:
    • Tanda bukti lunas herregistrasi
    • KTM yang masih berlaku
    • Kartu peserta ujian
    • (Seingat saya hanya ini, namun sebaiknya bawalah semua berkas yang dibutuhkan sesuai dengan poin 2 sebelum sidang untuk jaga-jaga) 
    • Bawa skripsi berbentuk print-out sebagai pegangan. Buku dan jurnal pendukung juga tidak ada salahnya dibawa.
    • Yakin dan berdoa! :-)

    Setelah Sidang (dan seusai memperbaiki kesalahan skripsi pada saat sidang)
    1. Segera penuhi tanda tangan pembimbing, ketua jurusan, dan dekan pada lembar pengesahan. Sebaiknya skripsi sudah di-hard cover sebelum meminta tanda tangan ketua jurusan dan dekan.
    2. Sekalian, penuhi juga tanda tangan pembimbing pada surat kesamaan isi dan surat publikasi. Surat tersebut berupa formulir yang dapat diunduh dari PACIS.
    3. Buatlah jurnal yang kemudian diunggah di sini. Dalam pengalaman saya, jurnal tersebut merupakan skripsi saya sendiri yang saya padatkan menjadi hanya 14 halaman (dapat lebih, dapat pula kurang). Untuk panduan format penulisan, saya hanya dapat menemukan panduan milik Fapet Unpad, dapat dilihat di sini.
    4. Setelah selesai diunggah, screenshot laman jurnal.unpad.ac.id yang menyatakan jurnal Anda telah berhasil diunggah. Lalu, print screenshot tersebut.
    5. Bagilah skripsi menjadi beberapa bagian lalu diunggah di PACIS dengan pembagian sebagai berikut: (Sesuai dengan pengumuman di perpus arsip skripsi)
      • Cover
      • Daftar Isi
      • Daftar Pustaka
      • Lampiran
      • Abstrak (Indonesia dan Inggris)
      • Bab I
      • Bab II
      • Bab III
      • Bab IV
      • Bab V
      • Lembar pengesahan (Khusus yang ini harus menggunakan file hasil scan lembar pengesahan dengan tanda tangan yang sudah lengkap)
      • Tambahkan surat kesamaan isi dan surat publikasi (Yang sudah ditandatangani pembimbing)
    6. Setelah selesai diunggah, screenshot laman PACIS yang menyatakan skripsi Anda dan kedua surat telah berhasil diunggah. Lalu, print screenshot tersebut.
    7. Buatlah dua CD, CD pertama berisi jurnal dan CD kedua berisi skripsi yang telah dibagi sesuai poin 5, hanya saja tidak perlu sertakan surat kesamaan isi dan surat publikasi. Kedua CD tersebut harus diberi label yang bukan tulisan tangan.
    8. Siapkan berkas-berkas ini sebelum menuju perpus arsip skripsi: (Setelah diserahkan, nanti akan diberikan tanda terima)
      • Satu buah skripsi yang telah di-hard cover
      • CD jurnal
      • CD skripsi
      • Screenshot(s) (Hanya untuk diperlihatkan, bila perlu)
    9. Siapkan berkas-berkas ini untuk pembuatan Surat Keterangan Lulus di SBP:
      • Fotokopi tanda terima dari perpus arsip skripsi
      • Fotokopi surat bebas pinjaman buku dari fakultas dan jurusan
      • Fotokopi sertifikat TOEFL
      • Screenshot(s) dalam bentuk print-out
    10. Setelah SKL selesai, fotokopi sesuai dengan kebutuhan lalu legalisir di SBP.


    Tips Tambahan
    • Saat meminta tanda tangan ke pembimbing atau ketua jurusan, sebaiknya siapkan terlebih dulu berkas-berkas yang harus ditandatangani supaya semuanya bisa ditandatangani secara langsung tanpa perlu berulang kali mencari-cari dosen yang bersangkutan, mengingat banyak dosen yang sulit ditemui karena sibuk.
    • Saat menyerahkan berkas atau apapun, sebaiknya serahkan yang berbentuk fotokopi dan simpanlah yang asli, kecuali diharuskan untuk menyerahkan berkas asli.
    • Sebaiknya cetaklah skripsi sebanyak 2 print-out, serahkan satu kepada perpus arsip dan simpan yang satu lagi untuk jaga-jaga apabila dibutuhkan.


    Sekian. Semoga tulisan ini dapat membantu perjuangan teman-teman mahasiswa yang membacanya.
    Apabila ada pertanyaan atau anggapan bahwa ada urutan atau tips dalam tulisan ini yang keliru, silakan tinggalkan komentar agar saya bisa menjawab atau memperbaikinya.

    Terima kasih.

    Selamat berjuang!

    May 10, 2016

    Aing Lulus!

    E&.

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah kuliah hampir 4 tahun, akhirnya tanggal 10 Mei 2016 gue pertama kalinya pake rok span ke kampus. Itu rok nyiksa banget dan menghambat gue saat jalan. Serius. Coba aja sendiri. Ditambah juga dengan heels setinggi 10 cm. Super. :-)

    Setelah meninggalkan kewajiban menulis skripsi berbulan-bulan karena niat yang luntur sehabis judul diubah total dan harus mulai dari nol lagi setelah seminar, untungnya gue sadar dan kembali ke jalan yang benar. Akhirnya seonggok skripsi pun jadi dengan nama gue di cover-nya.

    Setelah abis-abisan gak bisa ngejawab banyak banget pertanyaan waktu diuji, akhirnya sidang itu selesai.

    Udah bukan mahasiswa lagi.
    Kalo buka pacis, ada notifikasi alumninya.
    Sekarang udah jadi pengangguran.

    Ah, yang penting:

    AING LULUS!

    (Dan udah revisi juga!)

    March 10, 2015

    Pamalayan



    How does it feel when you discover that something you used to put your disbelief into is somehow true?
    “Cuma ngebosenin awal-awalnya aja kok. Habis itu malah gak mau pisah.”
    Boong lu.
    Demikian isi kepala gue saat ada orang yang mengucapkan ucapan dengan nada demikian. Saat itu, yang ada di pikiran gue cuma betapa susahnya nanti gue akan pup di desa itu. Cuma betapa gue akan iri nantinya sama temen-temen gue yang baru pulang dari perantauannya ke Jakarta terus ngumpul bareng. Cuma betapa akan terasa berbedanya Desa Pamalayan bila dibandingkan dengan Daerah Khusus Ibukota kecintaan gue.

    Setelah tiga puluh hari menghabiskan waktu bersama manusia-manusia yang hampir keseluruhannya kurang waras, ucapan itu berbalik menohok gue.

    Emang sih, di desa itu, gue susah pup. Gue iri sama temen-temen gue yang baru pulang dari perantauannya terus ngumpul bareng (dibikin irinya sampe pake video call, pula). Gue juga sadar desa itu beda banget kalo dibandingin sama ibukota. Tapi… di desa itu, gue bertemu dengan orang-orang gila yang mampu membuat gue melupakan kotoran-kotoran di usus besar yang menumpuk karena susah dikeluarkan itu, melupakan iri hati yang menyesatkan karena baru video call-an sama temen-temen kampret yang lagi ngumpul di Jakarta terus pamerin makanan enak, bahkan melupakan kota dengan julukan Big Durian itu. Duh.


    Mulai dari gabut aja sampe akhirnya gabut banget. Kalo ada yang nanya, “Vit, KKN lo ngapain aja?”, gue pasti menjawab dengan jujur—kalo gue di desa kerjaannya ya gabut. Kerjaannya ya nggak ada kerjaan. Mulai dari gabut berkualitas hingga gabut yang gak bermanfaat. Gue pernah nyuciin semua sendal Swallow punya anak-anak bareng Ellen, rekan gabut gue, untuk melawan kegabutan yang sangat kuat itu. Setelah dicuci, sendal-sendal Swallow yang bersih itu dijejerin. Putihnya sempurna dan memanjakan mata. Sialnya, sepertinya ada oknum yang iri hati karena sendalnya tidak sebersih sendal Swallow  kami, kemudian dengan sengaja mengotori sendal-sendal Swallow yang sudah kembali fitri itu. Ujung-ujungnya, gue tetep gak bisa jawab ke temen gue kalo gue di KKN nyuci sendal, sih.


    Mulai dari ke pantai buat foto-foto sampe akhirnya ke pantai buat dijorokin ke laut. Udah bukan anak pantai aja, tapi anak pantai banget. Dalam seminggu bisa ke pantai berkali-kali. Cukup nyewa kolbak, atau kalo niat, jalan kaki. Kulit akhirnya terbakar—dari gosong aja sampe gosong banget. Di saat anak-anak lain gosong merata, Pak Koordes Fakhri hanya gosong di bagian jidat—jidatnya overcooked, Chef Juna pas nyobain langsung dilepehin.


    Mulai dari makan terasa biasa aja sampe akhirnya makan terasa istimewa. Awalnya, ngeliat ayam goreng itu biasa aja. Lama-lama, ngeliat ayam goreng bisa berebutan. Awalnya, ngeliat tempe itu ngebosenin. Lama-lama, ngeliat tempe bisa histeris. Awalnya, ngeliat jamur crispy kayak chatting sama dosen—flat. Lama-lama, ngeliat jamur crispy kayak ngeliat emas satu kilo. Di sana, untungnya, gak pernah ada krisis makanan karena udah diatur sama bendahara keibuan kami, Ami. Ditambah lagi makanan tambahan seringkali mengalir dari pihak eksternal, misalnya beef teriyaki buatan nyokapnya Ijul, bonchon dari nyokapnya Ellen, keripik pisang dan keripik sukun dari Pak RW, serta buah-buahan dan makanan yang diantarkan Pak RT dan Bu RT dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kesusahan yang terkait dengan makanan cuma kesusahan nyari menu aja, soalnya kita terlalu kreatif.


    Mulai dari piket cuma bersih-bersih seadanya sampe akhirnya piket berseragam. Gue bersama dua partner piket gue yang otaknya geser, Anya dan Gery, piket seragaman. Awalnya kita mau pake kemeja biar kayak cleaning service gitu. Tapi kemudian kita ganti tema menjadi Black Monday, biar emo-emo gimana gitu. Di foto yang gue masukin, kayaknya si Sheilla iri deh sama kekompakan Black Monday dan mau gabung.



    Mulai dari dengerin lagu Bengawan Solo di pagi hari sampe dengerin lagu itu-itu lagi sampe malem—sampe Pak Entang jadi seneng soalnya rame, beliau jadi gak bisa tidur—dari hapenya Rangga pake speaker Sonicblock-nya Tiko. Mulai dari sering marahin Tiko sampe akhirnya sering dimarahin Iping karena selalu nanya ulang apa yang dia omongin. Mulai dari kehidupan Nisa dan Lira yang penuh drama sampe kelakuan Putra yang selalu baper setiap saat. Mulai dari ngobrol-ngobrol cantik sama Liesna sampe ngobrolin ilmu pengetahuan sama Owi (udah kayak kuliah aja). Mulai dari gak bisa main Poker sampe akhirnya bisa. Mulai dari main UNO sampe akhirnya bosen dan main Werewolf pake kartu bikinan Rangga di mana di dalam permainan itu Ihsan mengeluarkan jargonnya, “Kok gue? Kenapa gue? Di sana ada gesekan. Di sana ada angin.” Sayangnya, gue gak terlalu deket sama Nike, Probo, Octa, dan Ruth.



    Tiga puluh hari itu udah selesai…


    …lalu berlanjut lagi di Jatinangor.

    Kalo bilang ke temen mau ngumpul sama anak-anak KKN, pasti ada aja mulut yang mengutarakan bahwa KKN-nya mah gak ngumpul seintens kita. Kita sih bisa ngumpul seminggu lima kali. MUAHAHA.


    Gue merasa beruntung karena pada saat plotting hari-hari pertama yang menguras tenaga, pikiran, waktu, serta kewarasan itu (gue berhasil plotting setelah berjuang dari jam dua belas siang sampe jam empat sore), gue tidak menyerah dan gue ngeklik Pamalayan. Gue jadi bisa kenal orang-orang ini—orang-orang yang kayaknya sih gak bisa gue lupain. Siap-siap aja aib-aib kalian gue bocorin ke anak cucu gue kelak.

    Ceritanya sih masih banyak. Mungkin suatu saat nanti akan ada Pamalayan bagian kedua. Mungkin..

    Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
    memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
    sampai pada suatu hari
    kita lupa untuk apa.
    “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
    tanyamu.
    Kita abadi.

    Perahu Kertas,
    Kumpulan Sajak,
    1982”

    ― Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas

    September 09, 2013

    Ketiga


    Intro: Ketiga? Lo jadi orang ketiga? Emang udah ngerasain jadi tokoh yang pertama? #heningpanjang #tolongvitinibukaninstagramjadigakusahpakehastag

    Tons of sorry for being such an irresponsible blogger.

    Oke, udah berapa bulan gue nggak berkoar-koar disini? Satu? Dua? Tiga? Tolong jangan rajam aku..


    Oh iya. Terima kasih ya buat siapapun yang mention, sms, bbm, nanya langsung, ataupun nanya di dalem hati perihal mengapa blog ini gue telantarkan berbulan-bulan. Aaaaah, I love you guys! Gue tau dalam lubuk hati kalian yang terdalam, kalian merindukan tulisan gue. *buang ingus*


    Udahlah ya, lupain aja. Poin yang terpenting adalah kehadiran gue saat ini, bukan? *dihajar massa* Btw, selamat bulan September guys! Sejak bulan lalu, gue resmi punya adik angkatan. Serem? Iya. Kayaknya baru aja nyari-nyari kosan, eh tau-tau udah setahun mengembara di Jatinangor dan kosan dipenuhi maba yang tidak seangkatan sama gue. Intinya: gue udah bukan maba, gue udah semester tiga. Selain punya adik angkatan, gue juga lupa mengumumkan bahwa tahun ini gue kedatangan tiga orang adik sepupu baru—satu cowok dan dua cewek. Those babies (Puji Tuhan) gak nangis kalo gue gendong. Bangganya.. Gendong bayi itu enak, soalnya mereka itu wangi dan anget, kayak Dunkin Donuts baru dibeli. Yang penting sih jangan gendong mereka saat mereka gak pake pampers.


    Akhir-akhir ini otak gue emang lagi sulit dioperasikan, mungkin karena liburan (yang kata orang-orang) kepanjangan? Menurut gue pribadi, tidak akan pernah ada liburan yang terlalu panjang. Gue mencintai liburan seperti hutan mencintai hujan. Terutama saat gue udah merasakan hidup jauh di sebuah ‘pedalaman’ bernama Jatinangor. Sumpah, gue nggak tau apakah ada orang yang pernah ngomong kayak gini, yang jelas kalo ada yang pernah ngomong, dia bener: You’ll never know what you have until you don’t have it anymore. Ya, tapi gak bener 100% sih, bener 50% aja. Soalnya, dari dulu, gue udah bersyukur bisa tinggal serumah dengan orang-orang yang dipilihin Tuhan buat jadi keluarga gue. Cuma, setelah tinggal jauh dari mereka—I still have them, anyway—gue jadi semakin bersyukur aja punya mereka. Gue bersyukur karena gue masih punya alasan untuk pulang ke Jakarta. Gue bersyukur karena gue masih bisa ngerasain kayak gimana rasanya kangen. Gue bersyukur karena gue masih punya orang-orang yang memacu semangat gue untuk bikin mereka bersyukur juga karena mereka punya gue.


    Jujur, gue sering ngerasa bersalah sama orang-orang yang gue tinggalkan di rumah. Rumah pasti sepi atau mungkin rame karena mereka berpesta merayakan kepergian gue? Ah gak mungkin. Apalagi buat adik gue, gue sering ngerasa gak adil. Dulu, waktu gue seumuran dia, setiap gue bangun tidur, selalu ada dia. Setiap gue pulang sekolah, selalu ada dia. Gue ngerasa jahat karena sekarang, setiap dia bangun tidur, nggak selalu ada gue. Setiap dia pulang sekolah, nggak selalu ada gue juga. Sedih.. Tapi biarpun begitu, gue yakin, dengan adanya gue di tempat yang jauh dari dia saat ini, gue akan bisa memberikan dia sesuatu yang ‘lebih’ daripada sekadar kehadiran gue disaat dia bangun tidur atau pulang sekolah. Amin!

    Buat maba Unpad yang barangkali nyasar ke postingan entah berantah ini; halo! Rame ya Jatinangor? Makanya doain gue cepet lulus dong, biar paling enggak oksigen di Nangor nggak habis karena jatah buat satu orang udah nggak diitung lagi berhubung orangnya pulang ke Jakarta. Muehehe. Buat maba-maba lainnya, selamat datang di kehidupan perkuliahan. Sudah berapa kali kalian berpikir pengen balik jadi anak SMA lagi?

    Para maba menyerbu... (credit: PRABUnpad)


    Makasih ya, buat siapapun yang dengan kehendaknya sendiri atau tidak (yang pasti dengan kehendak Tuhan), mampir dan baca-baca blog ini. Semoga gak nyesel dengan keputusan lo itu.

    Pamit undur diri dulu. Sampai jumpa di cerita berikutnya, dimana gue akan menceritakan beberapa film yang gue tonton belakangan ini ditambah dua film yang baru 'akan' gue tonton. Jangan pernah lelah menunggu post baru di sini ya.

    Adios!

    July 17, 2013

    Satu Tahun Merantau

    Pada tanggal 17 Juli 2012, gue sedang merasakan bagaimana rasanya tidur tanpa si gendut Evan yang menemani dan tanpa AC juga, di sebuah kamar kos berukuran 4x3 meter persegi, di atas sebuah kasur selebar 80cm yang per-nya menusuk-nusuk kalo ditidurin.

    Pikiran gue saat itu: Mampus. Kayaknya gue gak bakalan betah ngekos. Gak bisa..

    Dan kenyataan berkata lain. Gue bisa, tuh. Dan sudah setahun gue melanjutkan hidup di kosan ini. Tanpa kosan ini, mungkin pantat gue udah ilang, terkikis oleh kursi Primajasa 10 jam sehari, karena harus bolak-balik Jakarta-Jatinangor. Kamu berjasa sekali, kosankuh.

    Dalam satu tahun ini, gue melakukan banyak hal di dalam ruangan dengan cat belang-belang ini. Mulai yang dulu bersihin kamar seminggu sekali, sampe sekarang jadi bersihinnya kalo kepengen aja. Mulai yang dulu habis makan selalu cuci piring, sampe sekarang jadi cuci piring kalo piring buat makan udah nggak ada lagi. Mulai yang dulu mandi cuma sekali sehari, sampe sekarang mandi jadi teratur dua kali sehari (akhirnya ada perubahan positif juga..).

    Satu tahun di Jatinangor yang panas sekali di siang hari dan dingin sekali di malam hari bagaikan Gurun Sahara, gue masih belum tau tempat-tempat di sini. Gue adalah 'kupu-kupu', kuliah-pulang-kuliah-pulang. Gimana ya, gue males aja kalo harus nongkrong-nongkrong dulu. Cupu abis, emang. Dan lagi.. bukannya pulang terus belajar, di kosan gue malah internetan sampe tengah malem. Bego abis, emang.

    Yang jelas, gue sudah berhasil bertahan satu tahun di sini. Gak nyangka. I should treat myself at the maha-gaul place, Jatos, then. Bye!

    May 03, 2013

    Iron Man 3 dan Curhat

    Hari Rabu(1/5) kemarin adalah hari dimana hedonisme (dan kemalasan) meraja pada diri gue.

    Baru bangun pukul sebelas siang, kemudian bermalas-malasan di atas kasur sambil main game, tau-tau udah setengah satu, dan (puji Tuhan) mandi dulu, males-malesan lagi sebentar, baru berangkat. Bukan berangkat ke kampus, tapi berangkat ke satu-satunya mal di Jatinangor. Iya, tepat sekali; Jatos.

    Awalnya gue berniat untuk movie marathon, secara.. Jatos21 tiketnya cuma dua puluh ribu perak buat sekali nonton. Film yang menarik hati ini adalah Iron Man 3 dan 9 Summers 10 Autumns. Tapi tiba-tiba ngerasa lagi males nonton film lokal, dan jadilah gue hanya menonton keseksian Robert Downey Jr di Iron Man 3.
    Sialnya, gue nyampe pukul setengah dua, sementara film udah jalan dari pukul satu. Gue harus nunggu sampe pukul tiga sore. Pffft.

    Untunglah ada restoran. Setelah beli tiket, gue melesat menuju Gokana Teppan. Pikiran gue saat itu adalah: Japanese Curry Rice, AAAA. Tapi giliran duduk, gue entah kenapa malah terpancing sama promonya Bakso Malang Karapitan (di Jatos, dua restoran ini emang digabung jadi satu. Entah kenapa). Jadilah gue memesan bakmi keriting ayam asin spesial dan coco purple. Tapi, berhubung gue gak mau bikin Gokana sedih, gue juga mesen seporsi hanenakami. Enak semuanya, tapi minumannya kemanisan. Duh, jadi laper. Gak sempet foto-foto makanannya, karena tau-tau udah abis. Jadi yang kefoto cuma....piringnya..... nih:

    Setelah puas makan dan duduk-duduk sambil main internet (gak numpang wifi ya, soalnya di situ gak ada wifi. Gue bermodal kali. Santai dong, santai.), gue kembali ke Jatos21 dan membeli popcorn. Harga popcorn-nya 11 12 sama tiket. Wahaha, delapan belas ribu. Dipikir-pikir mendingan gue beli tiket satu film lagi, sih. Tapi... semua sudah terlambat. Oh ya. Lagi-lagi gue nonton sendiri. Siapa di sini yang udah baca post Nonton? Siapa yang udah nyoba nonton sendiri? Kalian luaaaar biasaaaa.

    Sialnya.. lagi-lagi orang di sebelah gue bukanlah orang yang menyenangkan saat menonton. Sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta, dengan bau keti yang agak nggak enak. Kayaknya mereka gak beli popcorn. Kasian. Mungkin kalo cowoknya nonton sendiri, dia bisa beli popcorn. Tapi karena harus bayarin ceweknya.... *pukpuk*

    Pokoknya, gue agak sebel. Bukan iri, ya! Camkan!! Si cewek nanya-nanya mulu.
    "Lah? Si Tony Stark-nya kemana?"
    "Hah? Dia mati nggak ya?"
    "Loh? Kok ceritanya jadi gini?"
    ...dan sebagainya. Si cowok diem aja. Bagus sih sebenernya, kalo si cowok jawab, kayaknya mereka bakalan ngobrol berdua. Sepertinya si cowok nggak jawab, antara sedih gak bisa beli popcorn karena harus ngebayarin si cewek, nggak tau harus jawab apa, atau.. mulai muak dan berpikir untuk minta putus sehabis nonton. Waduh. Sori, sori. Semoga langgeng ya Aa dan Teteh, maapin saya.
    Btw untunglah si cewek nggak ikutan nyanyi waktu ada soundtrack-nya.

    Pokoknya Iron Man 3 keren! Meskipun gue nggak ngikutin yang pertama dan kedua, gue tetep ngerti. Recommended, guys! Gak usah takut nggak ngerti, gue aja ngerti. Di film ini bakal ada banyak ledakan. Gue sedih, ngeliat banyak robot yang rusak di film ini. Tapi gue seneng, soalnya film ini bikin gue nggak pengen ngatain atau nyari-nyari kesalahannya. Setiap gue melihat sebuah adegan dan berpikir, 'lah kok gini....', eh tiba-tiba adegan selanjutnya menjawab pertanyaan gue. Jadilah gue cuma bisa senyum-senyum sendiri, berpikir bahwa si sutradara sepertinya sepemikiran dengan gue. Muahahaha.

    Cuma katanya sih, sehabis credits bakal ada 'sesuatu'. Tapi berhubung gue udah males duluan, gue buru-buru keluar studio. Kalo ada yang tau apa 'sesuatu' itu, share dong di comment box. Penasaran juga sebenernya, nyari di Yutup yang keluar malah yang aneh-aneh. -___-

    Hidup nonton sendiri!
    Jangan bayarin tiket buat pacar!
    Biarkan pacar Anda hidup mandiri dengan membayar tiketnya sendiri!
    Pergunakan uang Anda untuk beli popcorn saja!

    Salam sejahtera.

    April 17, 2013

    Makrab Sasing'12: We Survived 2012

    Duh.
    (Gue gak mau memulai post ini dengan kata 'halo', terlalu cliche.)

    Sejak awal bulan April 2013, gue kayak kesetanan tiap malem. Mata selalu menolak untuk membiarkan gue beristirahat. Gue biasanya baru 'diizinkan' beristirahat oleh mata gue di atas jam tiga pagi. Selalu begitu kira-kira enam hari dalam setiap minggu. Is it what we call 'insomnia'? Hahahaha, (semoga) bukan. Soalnya insomnia itu serem pake banget. Insomnia yang sebenernya bisa dilihat di link INI. Jadi, buat adik-adik atau kakak-kakak yang jam setengah sebelas malem aja udah nge-tweet "Duh, insomnia...", plis dibuka link-nya, dan segeralah kembali ke jalan yang benar. Karena setiap melihat tweet atau status facebook seperti itu, gue jadi suka ngatain dan ngetawain kalian. Gak mau kan, gue terus-terusan bikin dosa? :(

    By the way, makrab yang gue ceritakan di post sebelum ini, sudah selesai dan berhasil! Meskipun acaranya diganggu oleh kehadiran hujan yang turun membasahi Jatinangor sepanjang acara (dan entah kenapa baru berhenti setelah acara selesai), tapi menurut gue, overall, lancar-lancar aja. Yang hadir kemarin, untungnya, tidak memilih untuk pulang melainkan tetap menonton. Ada yang hujan-hujanan (seperti gue), ada pula yang berteduh di bawah payung, meskipun mungkin ada yang memakai payung yang bukan miliknya, buktinya.. payung gue ilang, setelah diambil tanpa izin oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. The only upcoming meeting of this event is the evaluation, which will be held at April 18th. Nih, sebagai koordinator divisi dekorasi, gue lampirkan foto dekorasi panggungnya;

    Untuk melihat foto asli dari pemiliknya silakan klik DISINI.

    Gimana? Ini pertama kalinya gue 'ngacak-ngacak' kampus, tepatnya di Blue Stage-nya FIB Unpad Jatinangor. Kalo kalian liat, di foto itu, di kayu penyangga drum ada tulisan 'FASA'. Itu bukan kayu yang dicuri(hah, dicuri....?) dari fakultas lain, kok. Soalnya, dulu FIB namanya Fasa, alias Fakultas Sastra, sampai akhirnya Fasa ganti nama jadi FIB, alias Fakultas Ilmu Budaya, pada tanggal 5 Januari 2012. Puji Tuhan tidak terdengar oleh telinga gue komentar jelek untuk dekorasi ini. Tidak terdengar, ya. Kalo yang ngatain dekorasi ini di dalem hati sih, gue gak mau tau.

    Oh, iya. Gue lupa ngasih tau. 'Makrab' adalah akronim dari 'Malam Keakraban' (in case ada yang nggak tau). Yang jelas, makrab ini adalah Makrab Jurusan Sastra Inggris angkatan 2012. Nama acaranya We Survived 2012 (Bukan bermaksud nyombong, tapi cuma bangga aja, karena nama ini adalah nama yang gue usulkan saat rapat panitia inti pada suatu sore di bulan Maret 2013, gak nyangka bakalan dipake beneran *nangis terharu*). Jadi, intinya adalah angkatan 2012 berhasil bertahan dan selamat dari kiamat palsu ramalan mantan istrinya Dhani, Maya (OKE. INI KRIK. KRIK BANGET). Makanya, dekorasi yang diterapkan adalah bertema apocalypse. Seperti yang terlihat di foto, di atas panggung ada tulisan 2012 yang pake font film 2012. Terus, ada meteor. Dan kalo kalian hadir di acara itu, kalian bisa melihat dari dekat bahwa gedung-gedung mini itu rusak; ada yang bolong, ada yang hangus, dan ada yang patah juga.

    Well, jadi koordinator divisi, bikin gue dapet pengalaman baru. Gue jadi lebih kenal sama anak-anak Sastra Inggris 2012, terutama anak-anak dari divisi paling keren yaitu dekorasi. Bikin properti-properti yang terlihat di foto (tulisan 2012 dan meteor dari sterofoam, gedung-gedung dari kardus.) mau nggak mau membuat kami ketemu melulu sampe bosen dari 5 April sampai hari H, 11 April. Sekarang banyak orang yang kalo ketemu gue, senyum. Dan otomatis gue ikutan senyum. Dan senyum bisa membuat kita sehat. Nggak percaya? Klik link INI; ada penjelasan dari detikHealth tentang manfaat senyum di situ. Huehehe. Dan tidak hanya senyum, beberapa orang juga menyapa gue. Gue ngerasa berhasil beradaptasi. Ya, meskipun ini udah hampir setahun, tapi gue bersyukur, soalnya gue dinyatakan 'Tidak Baik' dalam beradaptasi oleh sebuah Psikotest yang pernah gue ikuti.

    Oh iya, satu hal yang pasti dari menjadi koordinator: pulsamu akan habis. Yap. Pulsa gue habis, buat ngejarkomin info-info ke anak-anak dekor yang jumlah keseluruhannya 17 orang. Belom lagi kalo tiba-tiba ada info tambahan atau ralat, harus ngejarkom berkali-kali. T_T Tapi, untunglah semakin hari anak-anak dekor makin solid, dan makin punya kesadaran untuk dateng on time. Dan anak dekor juga punya foto di ID card yang paling keren. Muahahaha. Ini gue lampirkan penampakannya;

    Dan tidak ada divisi lain yang foto ID card-nya satu badan dengan pose yang sama. B-)

    Dengan ikutan jadi bagian dari kepanitiaan Makrab Sastra Inggris 2012: We Survived 2012, gue nggak merasa kapok untuk ikut lagi dalam kepanitiaan. Capek, sih. Tapi capek gue ilang kok setelah semua panitia berkumpul, naik ke panggung, dan dihujani tepuk tangan (meskipun tepuk tangan dari panitia itu sendiri). Kegiatan gue selanjutnya adalah ngurusin acara Paskah KBK FIB Unpad, karena gue masuk menjadi panitia dalam divisi acaranya. Ditunggu ya, kabar kesuksesan acaranya! Muahahaha.

    Sampai jumpa di post selanjutnya! Selamat subuh, saya tidur dulu, ya.

    April 04, 2013

    Kesibukan Maret 2013

    Halo, sesuai dengan janji gue pada post sebelumnya, di post ini gue akan menjelaskan apa saja kesibukan gue di bulan lalu, sampe-sampe nggak bisa ngepost.

    Dan jawabannya adalah.......................... nggak ada.

    Semua kesibukan yang seharusnya udah lewat dari bulan Maret itu, pada mundur ke bulan April. Daripada gue ngulur-ngulur waktu dan baru cerita bulan Mei, gue menyempatkan diri untuk menulis malam ini. Iya, khusus buat kalian para pembaca budiman dimanapun kalian berada.

    Pertama. Seharusnya gue melaksanakan Makrab Sasing 2012 sebagai panitia di divisi dekorasi. Namun karena beberapa alasan, acara yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2013 tersebut diundur ke tanggal 11 April 2013. Padahal gue udah bahagia membayangkan bulan April tanpa dihantui bayang-bayang Makrab...... #okesip

    Kedua. Seharusnya gue melaksanakan pengambilan gambar, atau istilah terkenalnya, syuting. Gue bergabung dengan salah satu UKM di fakultas gue sekarang, dan UKM itu bergerak dalam dunia perfilman. Sebagai script writer teladan, gue membuat naskah sesuai dengan ide cerita teman seangkatan gue dengan ngebut. Ya, namanya juga film pendek, sih.. Naskah itu udah siap dan matang pada tanggal 12 Maret 2013, loh. Seharusnya syuting dilakukan pada tanggal 20 Maret 2013. But then, another shit happens. Diundur menjadi tanggal yang masih belum jelas. Pokoknya kalo itu film jadi, gue (pasti) bakalan pamerin di sini dan sekalian gue berikan naskahnya, siapa tau ada yang pengen ngeliat naskah film itu kayak gimana, cuma sekedar mau berbagi. Tapi tunggu filmnya rampung dulu, ya! Ini gue berikan hadiah logo UKM gue:

    Ketiga. Ini sih bukan merupakan hal yang gue undur, malah gue kebanyakan ngejalanin hal ini di bulan Maret. Iya. Gue kebanyakan pulang. Awalnya, gue bertekad untuk hanya pulang ke Jakarta satu kali dalam satu bulan. Bulan lalu gue pulang dua kali.. I broke my own promise, yet I didn't feel sorry. :p

    Oh iya. Adik kesayangan gue menderita penyakit tipes sejak Kamis, 28 Maret 2013. Sampai post ini dibuat, dia masih dirawat di RSPI. Gue mohon doa kalian untuk kesembuhan my luph, ya, teman-teman sekalian. Gak perlu doa, deh. Kalian ngucapin, 'Semoga cepet sembuh ya adiknya Evita' di dalam hati pada saat ini juga aja, gue udah berterima kasih. :'D

     Infusannya pake stiker beruang..

    Udah. Yang bikin gue males ngepost bulan Maret sebenernya cuma tiga itu aja. Kecewa karena 'kesibukan' gue tidak sesibuk yang kalian kira? Maapin saya, ya. Sebagai bonus, gue memberikan kuis menarik yang asyik dan sering sekali kita mainkan sewaktu mudakecil. Lumayan, bisa nostalgia dan iseng-iseng berhadiah, gratis pula. Tinggal klik---> KUIS BONUS.

    Sampai disini dulu, ya. Sampai jumpa di lain waktu. Maap juga, pikiran lagi keruh, lagi gak bisa bikin post bagus-bagus. :')

    January 10, 2013

    Antara Single dan Rokok?

    Post pertama tahun 2013. Oye!

    Hari ini UAS resmi selesai—diakhiri dengan mata kuliah paling sesuatu.

    Oh ya, beberapa hari belakangan ini, gue selalu diselamatkan dari keadaan darurat. Contohnya?
    Pertama; sejak hari Selasa sampai Kamis minggu ini (tiga hari UAS berturut-turut!), gue selalu menyalakan dua alarm sekaligus di pukul tujuh pagi (dengan harapan, gue akan bangun tepat waktu). Dan yang terjadi adalah.. iya, gue bangun. Bangun buat matiin kedua alarm itu dan tidur lagi. Selalu begitu setiap paginya, padahal di malam hari tekad gue sudah bulat untuk langsung bangun. Tapi..... entah kenapa, gue selalu bangun setengah jam sebelum UASnya mulai. Well, gue gak mandi pagi selama tiga hari. Mihihi.
    Kedua; adalah suatu kebodohan bila seseorang tidak bereaksi apa-apa saat seekor ular berwarna hijau sepanjang kurang lebih satu setengah meter jatuh dari atas pohon, tepat ke sebelah kiri orang itu. Orang itu.. gue. Hari Selasa lalu, gue bergegas kembali ke kosan setelah selesai mengarang mengerjakan 65 soal Linguistik. Saat gue sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh. Ternyata ular. Ular! Gue cuma bengong. Sesaat, mata gue dan mata ular itu bertatapan... Eaa.... Untung gue gak dimakan (ya emang ulernya tipe yang kecil panjang sih, masa iya makan orang segede gue), ular itu melata menuju semak-semak, meninggalkan gue yang masih bengong. Sekitar satu jam setelah kejadian itu, gue baru sadar kalo gue.. seharusnya gak bengong.
    Ketiga; hmmm................oke. Dua aja cukup, ya (Keluarga Berencana?). Yang lainnya gak terlalu penting dan gue udah agak lupa.

    Tahun lalu (2012), gue membaca quote dari album terbarunya Mika. Iya, Mika yang ganteng itu. Beginilah quote-nya;
    Love is a drug and you are my cigarette.
    Well, gue kemudian menganalisis quote itu. Keren ya, menganalisis. Gue menciptakan quote baru dari quote itu. Beginilah bunyinya;
    Love is a drug and you are my cigarette. But, I don't smoke.
    Ya. Itu adalah quote yang gue persembahkan untuk kaum-kaum fakir asmara yang tidak merokok. Iya, gue salah satunya. Single selama delapan belas tahun satu bulan dan dua hari. Berkelas banget, kayak orang-orang yang mengejar karier gitu.

    Ya, sekalian nyinggung rokok sedikit deh. Gue juga perokok. Tapi perokok pasif. Gue terpaksa menghirup asap berbau tidak enak dan bikin ngerasa sesak itu di banyak tempat. Mungkin ada orang yang bilang, "Buat apa bertahan jadi perokok pasif kalo bahayanya lebih besar daripada perokok aktif? Kenapa nggak jadi perokok aktif sekalian?" Well, itu gue sendiri yang bilang, sih. Dan gue menyanggah opini gue sendiri. Sounds weird, but yes, I am a weirdo. Menurut gue, itu yang namanya prinsip. Kalo dari awal emang nggak mau ngerokok, nggak ada yang bisa bikin kita ngerokok. Semacam komitmen, mungkin. Yaa.. mungkin para perokok aktif seharusnya bisa menghargai prinsip ini dengan tidak merokok di tempat-tempat umum. Amin. Amin banget. Sampai jumpa di post selanjutnya, di 2013 saya janji bakal rajin ngepost! (Jangan lupa setelah baca janji saya ini, diaminin, ya.)


    September 15, 2012

    Fakultas Ilmu Budaya


    Belum lama ini gue melihat sebuah tweet di timeline twitter gue. Tweet tersebut adalah curahan hati seorang gadis mengenai dia dan perkuliahannya. Satu kalimat yang gue baca; ‘... Kalo masuk sastra juga nggak apa-apa deh.’ Kurang lebih demikian. (Gue retweet kok, bisa Anda baca, cari aja di profil twitter gue, @epitak. Pokoknya tidak lebih lama dari bulan Juli.)

    Apakah pertanyaan ‘lulusan sastra mau jadi apa’ muncul di benak Anda? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian, ada banyak orang yang juga mempertanyakan hal itu. Dan lebih-lebih jangan khawatir lagi, gue tidak marah, kok. Gue sendiri adalah seorang mahasiswa di jurusan sastra, tepatnya Sastra Inggris.


    Cewek-masuk-sastra-juga-nggak-apa-apa itu (setelah gue retweet dengan ramah), berkata; ‘... Kan emang itu jurusan pelarian ya, kak?’ Ya, kurang lebih seperti itu. Pelarian? Maksudnya buangan, mungkin? Kenapa harus dijadikan sebuah pelarian? Sebuah buangan? Buat para calon mahasiswa yang menjadikan sastra sebagai pelarian, let me tell you something. Sastra itu tidak mudah. Bener, deh. Baru seminggu kuliah, gue udah ditugaskan membaca 3 buah karya tulis berbahasa Inggris. I love reading...........Indonesian stories. Susah banget rasanya buat gue untuk menyukai membaca cerita-cerita berbahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, sejujurnya gue hanya menyukai grammar dan spelling. Comprehension, or somehow, literature, adalah hal terberatnya. Serius deh, sekali lagi, sastra itu tidak mudah. Kalo dari awal hati lo ada di jurusan lain, terus lo terbuang di sastra? Lo bakal menjalani kuliah sastra dengan setengah hati (padahal susah! Ini bener-bener harus sepenuh hati), kemudian lo bakal terbuang dari jurusan yang lo jadikan buangan. Pasti sakit tuh. Intinya, yang lo butuhkan adalah keinginan dari hati, hati yang bergembira akan membuat semua jadi mudah, kok. #tsahh

    Kembali ke pertanyaan ‘lulusan sastra mau jadi apa’. Gue rasa, sekarang bahasa merupakan ilmu yang bisa diterapkan di banyak sekali bidang. Di Unpad sendiri(gue kurang tau kalo di universitas lain), nama Fakultas Sastra sudah diganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya pada tahun ini. Gelar sarjananya, S.Hum(Sarjana Humaniora), sudah bukan S.S lagi, setau gue, sih. Di sini, FIB terbagi menjadi 9 jurusan; Sastra Inggris, Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Perancis, Sastra Jerman, Sastra Rusia, Sastra Arab, Sastra Sunda, dan Ilmu Sejarah. Dan di sini juga, mahasiswa tidak hanya diberikan pengetahuan tentang sastra, tapi juga tambahan kompetensi berupa Diplomatik, Pariwisata, Wirausaha, dan Budaya. Jadi, lulusan FIB bisa kerja dalam keempat bidang itu juga. Ini sih, yang gue tau di Unpad. Khusus sastra Inggris, nanti di semester sekian(gue belum tau tepatnya), akan dibagi ke 3 major; Linguistics, Literature, dan/atau Translation. Kedengerannya keren-keren, ya?

    Buat kalian yang takut dan/atau ngeri sama ospek mahasiswa yang kejam, masuklah ke FIB Unpad! Ospek mahasiswa biasanya dibagi tiga; ospek universitas, fakultas, dan jurusan. Ospek universitas, sih, kakak-kakaknya banyak yang pura-pura ngebentak. Tapi cuma sehari! Dan gak akan dimacem-macemin, gak pake atribut-atributan. Ospek fakultas, kalo untuk FIB sendiri, tidak ada senioritas, dikerjain, dimarahin, disuruh ini-itu. Di hari ospek fakultas, fakultas lain sih, teriak-teriak nyuruh maba-maba(mahasiswa baru) baris. Kalo FIB? Kita disambut dong, "Wilujeng sumping, selamat datang di Fakultas Ilmu Budaya...", plus senyuman para akang-tetehnya. Sampe akhir acara ospek fakultas(sekitar seminggu), gak pernah ada tuh, senior yang marah-marah. Nah, kalo ospek jurusan sih, jurusan gue(Sastra Inggris), seniornya asik semua, gaul-gaul. Dibandingkan jurusan-jurusan lain di FIB, Sastra Inggris ospek jurusannya paling nyantai, Bro.~

    Oh iya. Kalo kalian mau masuk sini, jangan harap kalian bakal jadi ‘anak Bandung’, ya. Karena program sarjana FIB ada di kampus Unpad Jatinangor, bukan kampus Dipati Ukur atau kampus Dago. Jujur, gue ketipu. Kalo ada orang yang sering menganggap Depok itu di Jakarta, demikian pula hubungan Jatinangor dengan Bandung. Tapi, jangan khawatir. Kalo mau ke Bandung, lo hanya perlu naik bus Damri, dengan ongkos Rp. 5.000,- saja, lo bisa ngegaul ke Bandung, kok. FYI di Jatinangor tidak ada Starbucks, J.Co, Sushi Tei, Zara, dan lain-lain. Tapi ada gue. Lo pasti bahagia.

    Gue udah ngelantur? Oke. Semoga post ini bisa memberikan pencerahan pada seluruh calon mahasiswa. See you in next post!