Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

May 10, 2016

Aing Lulus!

E&.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah kuliah hampir 4 tahun, akhirnya tanggal 10 Mei 2016 gue pertama kalinya pake rok span ke kampus. Itu rok nyiksa banget dan menghambat gue saat jalan. Serius. Coba aja sendiri. Ditambah juga dengan heels setinggi 10 cm. Super. :-)

Setelah meninggalkan kewajiban menulis skripsi berbulan-bulan karena niat yang luntur sehabis judul diubah total dan harus mulai dari nol lagi setelah seminar, untungnya gue sadar dan kembali ke jalan yang benar. Akhirnya seonggok skripsi pun jadi dengan nama gue di cover-nya.

Setelah abis-abisan gak bisa ngejawab banyak banget pertanyaan waktu diuji, akhirnya sidang itu selesai.

Udah bukan mahasiswa lagi.
Kalo buka pacis, ada notifikasi alumninya.
Sekarang udah jadi pengangguran.

Ah, yang penting:

AING LULUS!

(Dan udah revisi juga!)

April 18, 2016

2016 so far

Hello, this is a little recap for myself about the things happened in a short period of time.

2016 so far......... (it has been 109 days since we burned those fireworks)
  • I haven't written anything (till today?). My brain sucks. I suck.
  • That is why I haven't posted anything too. He. He. He.
  • So, HAPPY NEW YEAR!
  • This semester I've been hanging around in Jatinangor for so long to only sit around watching tv series on my laptop. (Just finished Friends for the second time!)(Is that something I should be proud of?)
  • Maybe the reason I'm not leaving Jatinangor for a long time is because I'll be asked when my graduation will due by almost everyone in the family if I'm home. Pls don't ask that kind of question, I beg you.. :(
  • Next month I'll be attending my friends' graduation. Hu oh. Feels. The world is so rude.
  • I'm supposed to finish my thesis a.s.a.p. but................. (pretending to be dead)
  • Speaking of death, I've lost a dear friend this year. Farewell, Ami. You'll be missed. :")
  • The world has also lost Alan Rickman. :(((
  • "After all this time?"
  • "Always."
  • I'm going to sell my prosumer Nikon camera to replace it with a better one soon. Interested? Contact me yah agan dan aganwati. #jualkamera #jualkameramurah #jualkamerabagus #kamerasecondhand
  • I'm 90% going to raise a puppy after being graduated.
  • That's why I put a lot of efforts on my thesis lately. I just printed it three hours ago! :O :O :O :D :D :D
  • Yeah but I only printed that shit to realize that the page-numbering has errors. I have to print it again tomorrow......
  • I just finished buying all the gifts for colleagues and some people related to me in uni life. If you're my uni life friend who is reading this, don't get your hopes too high, there's a possibility for me not to buy you anything. :p
  • I've been doing online shopping too much, I'm broke now...

Is that it?
Maybe.
My brain doesn't work well in memorizing, maybe.

Have you finished reading this?
Well, you're doomed as this writing is not that informative or whatever. :p

See you soon with a better post!

current life motto


September 08, 2015

The S Word



Ya ampun. 

Sudah lama sekali gue tidak menulis. Bulan Mei lalu sih niatnya nggak mau bersentuhan dengan blog karena mau bikin skripsi. Iya, skripsi. Hal yang selalu tampak menyeramkan ini harus gue urus dengan segera. Ngeblognya sih berhenti, tapi skripsinya juga nggak jalan. Kzl.

Skripsi yang selama ini hanya gue dengar dan tertawakan tiba-tiba sudah memaksa untuk diselesaikan selambat-lambatnya akhir tahun ini. Ini bisa mengakibatkan serangan jantung mendadak. HUF. Gue rindu saat-saat gue masih bisa tertawa saat mendengar kata itu. (Sampe sekarang masih ketawa sih—ketawa miris)

Gue sadar, ini sudah waktunya gue mulai serius nyusun. Beberapa teman sudah hampir selesai, sementara gue baru bikin dua halaman. Alasan yang paling sering gue pakai untuk melindungi diri dari pertanyaan “Skripsi udah sampe mana?” dan/atau pernyataan “Ih, males banget lo bikin skripsinya” (yang selalu gue jawab dengan cengengesan ngeselin terlebih dahulu) adalah bahwa gue belum memiliki motivasi untuk buru-buru lulus. Kok kesannya kayak kode? Muahaha sumpah nggak ngode ke siapa-siapa! Alasan yang menyebalkan itu makin lama makin terkuak kebenarannya. Motivasi sih banyak, tapi, semangat yang nggak ada. GIMANAAH ATUHHH.
 
Maka dari itu, gue meminta doa restu dari pembaca terkasih agar semangat nyusun skripsi tersebut bisa muncul sebelum terlambat. Dan tidak, gue tidak akan berhenti ngeblog. Tanpa niat berhenti saja gue sudah cukup jarang ngepost. Blogger gagal? Huft. Tapi ya, semoga nggak gagal juga deh skripsinya. Amin!

March 10, 2015

Pamalayan



How does it feel when you discover that something you used to put your disbelief into is somehow true?
“Cuma ngebosenin awal-awalnya aja kok. Habis itu malah gak mau pisah.”
Boong lu.
Demikian isi kepala gue saat ada orang yang mengucapkan ucapan dengan nada demikian. Saat itu, yang ada di pikiran gue cuma betapa susahnya nanti gue akan pup di desa itu. Cuma betapa gue akan iri nantinya sama temen-temen gue yang baru pulang dari perantauannya ke Jakarta terus ngumpul bareng. Cuma betapa akan terasa berbedanya Desa Pamalayan bila dibandingkan dengan Daerah Khusus Ibukota kecintaan gue.

Setelah tiga puluh hari menghabiskan waktu bersama manusia-manusia yang hampir keseluruhannya kurang waras, ucapan itu berbalik menohok gue.

Emang sih, di desa itu, gue susah pup. Gue iri sama temen-temen gue yang baru pulang dari perantauannya terus ngumpul bareng (dibikin irinya sampe pake video call, pula). Gue juga sadar desa itu beda banget kalo dibandingin sama ibukota. Tapi… di desa itu, gue bertemu dengan orang-orang gila yang mampu membuat gue melupakan kotoran-kotoran di usus besar yang menumpuk karena susah dikeluarkan itu, melupakan iri hati yang menyesatkan karena baru video call-an sama temen-temen kampret yang lagi ngumpul di Jakarta terus pamerin makanan enak, bahkan melupakan kota dengan julukan Big Durian itu. Duh.


Mulai dari gabut aja sampe akhirnya gabut banget. Kalo ada yang nanya, “Vit, KKN lo ngapain aja?”, gue pasti menjawab dengan jujur—kalo gue di desa kerjaannya ya gabut. Kerjaannya ya nggak ada kerjaan. Mulai dari gabut berkualitas hingga gabut yang gak bermanfaat. Gue pernah nyuciin semua sendal Swallow punya anak-anak bareng Ellen, rekan gabut gue, untuk melawan kegabutan yang sangat kuat itu. Setelah dicuci, sendal-sendal Swallow yang bersih itu dijejerin. Putihnya sempurna dan memanjakan mata. Sialnya, sepertinya ada oknum yang iri hati karena sendalnya tidak sebersih sendal Swallow  kami, kemudian dengan sengaja mengotori sendal-sendal Swallow yang sudah kembali fitri itu. Ujung-ujungnya, gue tetep gak bisa jawab ke temen gue kalo gue di KKN nyuci sendal, sih.


Mulai dari ke pantai buat foto-foto sampe akhirnya ke pantai buat dijorokin ke laut. Udah bukan anak pantai aja, tapi anak pantai banget. Dalam seminggu bisa ke pantai berkali-kali. Cukup nyewa kolbak, atau kalo niat, jalan kaki. Kulit akhirnya terbakar—dari gosong aja sampe gosong banget. Di saat anak-anak lain gosong merata, Pak Koordes Fakhri hanya gosong di bagian jidat—jidatnya overcooked, Chef Juna pas nyobain langsung dilepehin.


Mulai dari makan terasa biasa aja sampe akhirnya makan terasa istimewa. Awalnya, ngeliat ayam goreng itu biasa aja. Lama-lama, ngeliat ayam goreng bisa berebutan. Awalnya, ngeliat tempe itu ngebosenin. Lama-lama, ngeliat tempe bisa histeris. Awalnya, ngeliat jamur crispy kayak chatting sama dosen—flat. Lama-lama, ngeliat jamur crispy kayak ngeliat emas satu kilo. Di sana, untungnya, gak pernah ada krisis makanan karena udah diatur sama bendahara keibuan kami, Ami. Ditambah lagi makanan tambahan seringkali mengalir dari pihak eksternal, misalnya beef teriyaki buatan nyokapnya Ijul, bonchon dari nyokapnya Ellen, keripik pisang dan keripik sukun dari Pak RW, serta buah-buahan dan makanan yang diantarkan Pak RT dan Bu RT dengan penuh cinta dan kasih sayang. Kesusahan yang terkait dengan makanan cuma kesusahan nyari menu aja, soalnya kita terlalu kreatif.


Mulai dari piket cuma bersih-bersih seadanya sampe akhirnya piket berseragam. Gue bersama dua partner piket gue yang otaknya geser, Anya dan Gery, piket seragaman. Awalnya kita mau pake kemeja biar kayak cleaning service gitu. Tapi kemudian kita ganti tema menjadi Black Monday, biar emo-emo gimana gitu. Di foto yang gue masukin, kayaknya si Sheilla iri deh sama kekompakan Black Monday dan mau gabung.



Mulai dari dengerin lagu Bengawan Solo di pagi hari sampe dengerin lagu itu-itu lagi sampe malem—sampe Pak Entang jadi seneng soalnya rame, beliau jadi gak bisa tidur—dari hapenya Rangga pake speaker Sonicblock-nya Tiko. Mulai dari sering marahin Tiko sampe akhirnya sering dimarahin Iping karena selalu nanya ulang apa yang dia omongin. Mulai dari kehidupan Nisa dan Lira yang penuh drama sampe kelakuan Putra yang selalu baper setiap saat. Mulai dari ngobrol-ngobrol cantik sama Liesna sampe ngobrolin ilmu pengetahuan sama Owi (udah kayak kuliah aja). Mulai dari gak bisa main Poker sampe akhirnya bisa. Mulai dari main UNO sampe akhirnya bosen dan main Werewolf pake kartu bikinan Rangga di mana di dalam permainan itu Ihsan mengeluarkan jargonnya, “Kok gue? Kenapa gue? Di sana ada gesekan. Di sana ada angin.” Sayangnya, gue gak terlalu deket sama Nike, Probo, Octa, dan Ruth.



Tiga puluh hari itu udah selesai…


…lalu berlanjut lagi di Jatinangor.

Kalo bilang ke temen mau ngumpul sama anak-anak KKN, pasti ada aja mulut yang mengutarakan bahwa KKN-nya mah gak ngumpul seintens kita. Kita sih bisa ngumpul seminggu lima kali. MUAHAHA.


Gue merasa beruntung karena pada saat plotting hari-hari pertama yang menguras tenaga, pikiran, waktu, serta kewarasan itu (gue berhasil plotting setelah berjuang dari jam dua belas siang sampe jam empat sore), gue tidak menyerah dan gue ngeklik Pamalayan. Gue jadi bisa kenal orang-orang ini—orang-orang yang kayaknya sih gak bisa gue lupain. Siap-siap aja aib-aib kalian gue bocorin ke anak cucu gue kelak.

Ceritanya sih masih banyak. Mungkin suatu saat nanti akan ada Pamalayan bagian kedua. Mungkin..

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.

Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982”

― Sapardi Djoko Damono, Perahu Kertas

March 03, 2014

Where Have You Been? #4

Kata orang, Februari adalah bulan penuh cinta. Bagi gue, ini adalah another bulan kampret di post bersambung ini. Banjir lagi, guys! Yaaaaaaaay :-))))))))))) (udah terlalu stres)

Gue yakin alam punya cara tersendiri untuk 'berinteraksi' dengan manusia. Banjir ini, contohnya, adalah kode yang diberikan alam kepada gue sekeluarga untuk segera pindah meninggalkan rumah kami yang sekarang ini menuju tempat yang lebih baik tinggi. YA. PINDAH KE PUNCAK MOUNT EVEREST BIAR GAK KEBANJIRAN LAGI. (aku trauma, Kakak) Atau, ninggiin rumah. Tapi, semuanya terserah Tuhan saja, aku pasrah.

Beres-beres rumah yang kotornya gila-gilaan setelah digenangi air berhari-hari itu... capek. Mana tega gue ngebiarin Ibu, Bapak, dan Adik membersihkan rumah bertiga saja? Maka dari itu gue membatalkan perwalian yang seharusnya gue hadiri di Jatinangor. Gue memang anak berbakti.

Beberapa hari berselang dari acara bersih-bersih rumah, gue harus kembali ke kehidupan kosan yang pahit pada tanggal 16 Februari, dianterin sama Ibu, Bapak, dan Adik karena kabarnya terminal Lebak Bulus sudah ditutup dan gue kehilangan Primajasa yang dulu selalu ada di sana. :'(

Setelah itu, ya gitu deh. Kuliah lagi. Begadang lagi. Makan cuma kalo laper lagi. Mandi cuma kalo bau atau gatelnya udah gak tertahankan lagi. Dan doa meminta cepet liburan LAGI.

Ini adalah akhir dari rentetan post bersambung pertama gue yang gue buat untuk menjelaskan kenapa gue gak ngeblog 4 bulan terakhir ini. Mihihi. Maap yak, mudah-mudahan mulai bulan Maret ini gue bakal jadi blogger yang kembali ke jalan yang lurus.

See you soon!



Where Have You Been? #3

SELAMAT TAHUN DUA RIBU EMPAT BELAS! (Telat banget, Vit.)

Tahun baruan kemarin, gue gak liburan. Sedih. Gue melewatkan detik-detik pertama tahun 2014 di rumah Nenek gue, bareng adik gue (lagi-lagi dia) dan adik sepupu gue. Bertiga, kami menonton apa saja—mulai dari TV, petasan, hingga bayangan kami sendiri. Ya, seru lah. (menghibur diri)

Bulan Januari kemarin, gue full libur. Yeaaaaah. Kerjaan gue? Makan, tidur, nonton TV, main hape, ditambah ngungsi dan beres-beres. NGUNGSI DAN BERES-BERES? Iya. Rumah gue kebanjiran. Rumah gue memang jadi rawan banjir karena posisi tanah komplek perumahan gue itu dikelilingi oleh perumahan-perumahan lain yang lebih tinggi. Jadi, ya, udah gak bisa nolak, lebih baik terima aja dengan lapang dada sambil bermain air banjir. Air mulai mengepung rumah pada tanggal 17 Januari 2014 dan lumayan lama surutnya.

Selama mengungsi, kerjaan gue ya.. makan, tidur, nonton TV, main hape. Sama aja. Selain itu? Gue ketemuan dengan beberapa kerabat SMA, semacem reunian. Kami mengunjungi gedung sekolah kami yang... gak ada kemajuannya. Masa gedungnya udah dicat tapi masih rombeng sana-sini? That building deserves a wrecking ball.

Jadi, ya.. gitu deh. Liburan kali ini gak begitu kerasa. T_T




<< Prev Part    |    Next Part >>

Where Have You Been? #2

Bulan Desember adalah bulan yang paling asik. Liburan di bulan ini sifatnya absolut (Natal dan tahun baru, of course!). Pada bulan Desember tahun 2013, gue berulang tahun lagi (lagi?). Umur gue sekarang adalah akhir dari fase 'belasan'. Setelah ini gue akan memasuki fase 'puluhan'. Serem..

There was nothing so-called-special in my 2013 age-changing. Emak-Bapak serta Adik tidak turut serta meramaikan seperti halnya tahun 2012 (even they later threw me a late surprise at home). Selain itu, pada hari yang sama gue harus menjalankan UAS pagi-pagi. UASnya susah pula. Huft banget.

Gue beli hape baru; Galaxy Mega. Awalnya mau beli iPhone tapi kalo gue bandingin speknya sih, gak terlalu beda. Hape baru gue ini gedeeee, 5.8 inches, susah dikantongin. Kayak di film-film Korea, ya? Kan hapenya pada gede-gede, tuh. Atau kayak di Masterchef? Itu loh, tempat motong-motong bahan makanan. Krik. Oke. Bye.

Ada juga satu mata kuliah yang mengganggu liburan dengan UAS tanggal 30 Desember. Tanggal segitu kan harusnya udah berbahagia liburan T_T untunglah Evan mengunjungi kosan dan menginap di sana sampai UAS kampret itu selesai (gak untung-untung banget sih, soalnya selama si gendut itu di kosan, kerjaannya kalo gak makan, ya jajan ...pake duit gue). Yay! Setelah ngarang UAS selesai, beres-beres kosan selesai dan makan selesai (tentu saja si gendut minta makan dulu), pada jam 3 sore kami bersama-sama menuju Cileunyi. Kampretnya, ternyata Cileunyi rame, sob. Primajasa yang kami nanti-nantikan selalu penuh. Kemudian muncul sebuah ide (yang ujung-ujungnya akan gue sesali- spoiler!) di otak gue: "Kenapa gak naik bis kosong yang ngetem aja?".

Adik gue yang tidak tahu apa-apa soal per-bis-an, nurut-nurut aja. Gue kira bis ini lebih murah dari Primajasa, tapi ternyata enggak. 70ribu berdua. Kami menghirup udara segar (ya, bis ini tidak ber-AC) dan merasa bahagia pada awal perjalanan. Hingga akhirnya.. rute bis mulai berubah. Bis itu keluar tol dan gak masuk-masuk lagi. Gue mulai khawatir, seinget gue bis-bis model gini emang keluar tol, tapi nantinya bakal masuk lagi ke tol Cipularang. Tapi ternyata bis kali ini enggak. Bis ini membawa gue dan adik gue melalui jalanan perbukitan berkelok-kelok yang bikin pusing dan pengen muntah. GAK TAUNYA BIS INI RUTENYA LEWATIN PUNCAK DONG! Ya, bayangin aja gimana macetnya Puncak di tanggal 30 Desember. :-)

Setelah tujuh jam lebih di dalam bis (kalo naik Primajasa, cuma 3-4 jam..), sampailah kami di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur. Terminal ini letaknya di ujung timur Jakarta, sementara rumah gue di ujung barat Jakarta—JAUH! Menunggu dijemput Bokap di terminal pada jam 10 malam lewat terdengar kurang aman, maka akhirnya gue dan adik gue naik taksi. 200ribu sampe rumah. Jam 11 malam lewat, barulah kami sampai di rumah. Ini adalah perjalanan paling ngenes sepanjang sejarah gue ngekos. Gue bertekad tidak akan pernah naik bis itu lagi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Tanda seru (bukannya 'titik' lagi)!

Maafkan aku yang pernah mencoba selingkuh darimu, Primajasa. Aku takkan berbuat begitu lagi.



<< Prev Part    |    Next Part >>

February 25, 2014

Where Have You Been? #1



Gue gak suka bulan November. Kalender di bulan ini biasanya cuma merah di hari Minggu. GAK ADA LIBURNYA! Pfft. Bulan November juga ngelama-lamain buat nyampe akhir tahun. Kampret kan? Lagian, selama November 2013, Jatinangor ujan di hampir setiap sore. Dobel kampret, sepatu yang gue pake kuliah jadi basah melulu. Tripel kampret, jemuran gue keringnya lama dan jadi bau.

Ngapain aja ya gue selama bulan November 2013? ...ya, gitu deh. Gak ada yang menarik untuk diinget, sih. Cuma bulan kuliah biasa yang pengen cepet-cepet gue skip langsung ke UAS biar cepet libur. Bulan Desember dengan UAS serta libur Natal + tahun barunya sounds much more appealing dibandingkan dengan the flat November.

Yang bisa diinget dari bulan ini malah pengalaman sial gue. Nyasar di Jakarta—di kota kelahiran sendiri. Jadi, gue naik bis dari Cileunyi menuju Jakarta. Tapi bis itu gak berhenti di tempat pemberhentian yang tertera di kacanya—Lebak Bulus. Bis laknat itu malah membawa gue ke tempat yang gue sama sekali gak tau. Untunglah terlihat halte Transjakarta di kejauhan. Tapi bis ke arah Grogol gak nongol-nongol......... sekalinya nongol, penuh. Gue berdiri sekitar 45 menit sampai akhirnya dapet bangku. Baru duduk lima menit, eh ada embak-embak bawa anak. No one cared. All the embak-embak(s) around me 'seemed' asleep (they're not actresses so it was easy to know..). Yaudah, gue ngalah. Pffft, sabar ya kaki. Malah anaknya gak lucu terus berisik, lagi. Bagi gue, anak kecil yang tidak lucu harus diam dan dilarang mengganggu. Kalo anak kecil lucu, mau ngapain aja terserah, gue nggak bakal terganggu. Beberapa halte selanjutnya, embak-embak itu mau turun. Gue lega dong, bisa duduk lagi. EH ADA EMBAK-EMBAK KAMPRET GENDUT DENGAN LINCAHNYA NYELIP DAN DUDUK DI TEMPAT ITU. Heran. Kenapa sih segendut-gendutnya embak-embak, kalo ngerebut tempat duduk tuh lihai banget? Dasar embak-embak jamban.

Tuh kan ngomongnya jadi jorok. Ya udah lah, lupakan saja November yang super duper kampret itu.



April 04, 2013

Kesibukan Maret 2013

Halo, sesuai dengan janji gue pada post sebelumnya, di post ini gue akan menjelaskan apa saja kesibukan gue di bulan lalu, sampe-sampe nggak bisa ngepost.

Dan jawabannya adalah.......................... nggak ada.

Semua kesibukan yang seharusnya udah lewat dari bulan Maret itu, pada mundur ke bulan April. Daripada gue ngulur-ngulur waktu dan baru cerita bulan Mei, gue menyempatkan diri untuk menulis malam ini. Iya, khusus buat kalian para pembaca budiman dimanapun kalian berada.

Pertama. Seharusnya gue melaksanakan Makrab Sasing 2012 sebagai panitia di divisi dekorasi. Namun karena beberapa alasan, acara yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2013 tersebut diundur ke tanggal 11 April 2013. Padahal gue udah bahagia membayangkan bulan April tanpa dihantui bayang-bayang Makrab...... #okesip

Kedua. Seharusnya gue melaksanakan pengambilan gambar, atau istilah terkenalnya, syuting. Gue bergabung dengan salah satu UKM di fakultas gue sekarang, dan UKM itu bergerak dalam dunia perfilman. Sebagai script writer teladan, gue membuat naskah sesuai dengan ide cerita teman seangkatan gue dengan ngebut. Ya, namanya juga film pendek, sih.. Naskah itu udah siap dan matang pada tanggal 12 Maret 2013, loh. Seharusnya syuting dilakukan pada tanggal 20 Maret 2013. But then, another shit happens. Diundur menjadi tanggal yang masih belum jelas. Pokoknya kalo itu film jadi, gue (pasti) bakalan pamerin di sini dan sekalian gue berikan naskahnya, siapa tau ada yang pengen ngeliat naskah film itu kayak gimana, cuma sekedar mau berbagi. Tapi tunggu filmnya rampung dulu, ya! Ini gue berikan hadiah logo UKM gue:

Ketiga. Ini sih bukan merupakan hal yang gue undur, malah gue kebanyakan ngejalanin hal ini di bulan Maret. Iya. Gue kebanyakan pulang. Awalnya, gue bertekad untuk hanya pulang ke Jakarta satu kali dalam satu bulan. Bulan lalu gue pulang dua kali.. I broke my own promise, yet I didn't feel sorry. :p

Oh iya. Adik kesayangan gue menderita penyakit tipes sejak Kamis, 28 Maret 2013. Sampai post ini dibuat, dia masih dirawat di RSPI. Gue mohon doa kalian untuk kesembuhan my luph, ya, teman-teman sekalian. Gak perlu doa, deh. Kalian ngucapin, 'Semoga cepet sembuh ya adiknya Evita' di dalam hati pada saat ini juga aja, gue udah berterima kasih. :'D

 Infusannya pake stiker beruang..

Udah. Yang bikin gue males ngepost bulan Maret sebenernya cuma tiga itu aja. Kecewa karena 'kesibukan' gue tidak sesibuk yang kalian kira? Maapin saya, ya. Sebagai bonus, gue memberikan kuis menarik yang asyik dan sering sekali kita mainkan sewaktu mudakecil. Lumayan, bisa nostalgia dan iseng-iseng berhadiah, gratis pula. Tinggal klik---> KUIS BONUS.

Sampai disini dulu, ya. Sampai jumpa di lain waktu. Maap juga, pikiran lagi keruh, lagi gak bisa bikin post bagus-bagus. :')

October 15, 2012

Anak Kos



Halo. Maaf, gue udah jadi blogger durhaka belakangan ini. Ini semua adalah efek samping menjadi mahasiswa. Dulu, semasa masih siswa, sehari-hari otak gue terisi dengan suplemen-suplemen yang gue butuhkan—buku-bukunya Raditya Dika, komik-komiknya Aoyama Gosho dan Ono Eriko, dan lain-lain. Sekarang? Otak gue mulai keluar asep. Bacaan gue sekarang adalah cerita-cerita pendeknya Ernest Hemingway, Raymond Carver, Ama Ata Aidoo, dan lain-lain. (mulut mulai mengeluarkan busa, asap mulai mengepul dari kepala)

Sejalan dengan otak, perut juga udah jarang terisi dengan makanan-makanan enak dan sehat dan mahal. Dulu, sepulangnya dari tempat penyiksaan otak(re: sekolah), di rumah sudah menanti nasi putih mengepul panas, udang goreng tepung, ayam goreng mentega, dan lainnya. Sekarang? Pulang dari tempat penyiksaan otak yang baru(re: kampus), di kosan sudah menanti sebuah magic jar, beras, tanpa lauk. Kemudian gue harus membeli lauk di warteg! (Beneran, selama di Jakarta gue gak pernah ke warteg) Kadang, kalo bosen, gue beli nasi goreng. KFC, Hoka-hoka Bento, atau apapun di foodcourt mall, hanya tersentuh satu bulan sekali. Kalian mau ambil tisu dulu? Kalian terharu kan? :’)

Selama hampir 2 bulan ngekos, gue sudah mengalami beragam permasalahan. Apakah permasalahan gue itu? Apakah seru? Apakah menarik? ...Apakah penting? Yaudahlah ya. Gak dosa juga buat baca hal yang gak penting. (nangis)
  1. Makan


          Makanan sehari-hari.

    Serius. Makan itu problem yang masih menghantui pikiran gue sampe sekarang. Oke, yang jual makanan murah memang banyak. Tapi rasanya.....hmm, ya, harga memang sebanding dengan rasa. Dan lagi, gue bosen! Sering banget gue galau berjam-jam hanya karena bingung mau beli makanan dimana. Mau catering? Em.... (mengintip dompet sejenak) ...kayaknya enggak.
  2. Homesick


        
    Kasihan sekali wajah anak ini..


    Oke. Gue sudah melewati fase kritis dari penyakit ini, sih. Ini adalah penyakit paling mematikan bagi anak-anak kos baru. Di rumah, keluar kamar, bisa ngeliat anggota keluarga kita—ya, meskipun kadang hubungan kita dengan mereka emang nggak selalu mulus, tapi di kosan, keluar kamar, yang gue lihat hanya kamar lain dan kucing-kucing liar yang (sialnya) memutuskan untuk hidup di rumah kos ini. Gue pengen pemandangan adik gue lagi nungging di depan PlayStation, bokap gue lagi main Solitaire di PC, atau nyokap gue lagi masak, bisa gue liat di sini. Tapi.....ah, sudahlah.
  3. Fase Kenyamanan


          Oke. Gue tidak selebay ini saat bangun. Dan rambut gue hitam. Dan gue tidak tidur pake tengtop.

    Masalah ini bukan masalah nyaman atau tidaknya kosan lo. Tapi, masalah ini bermula saat lo sudah menemukan zona nyaman di kosan lo. Awal-awal gue hidup di sini, gue rajin banget, bersih-bersih seminggu sekali, nyapu tiap ngeliat lantai kotor, ngelap-ngelap meja, sering mandi, dan yang paling penting, bangun pagi. Tapi, akhir-akhir ini, setelah gue menemukan zona nyaman, gue jadi berubah. Bersih-bersih (saat ini) menjadi dua minggu sekali, nyapu menjadi tidak teratur, jarang ngelap meja, jarang mandi, dan mulai bangun kesiangan. Ini adalah penyakit menyeramkan, yang menyerang dan mematikan secara perlahan-lahan. Pfft.

  4. Listrik Mati Saat Tugas Menumpuk


          Tugas-tugas itu membunuhku.

    Listrik mati doang sih, biasa... tidur aja, bangun-bangun listrik udah nyala. Sialnya, gue pernah mengalami listrik mati saat tugas gue menggunung. Jam enam sore, waktu yang gue tetapkan untuk gue akan mengerjakannya. Dibarengi dengan turunnya hujan dan kilat menyambar-nyambar. WHAT THE.................... Akhirnya, daripada gue menantang maut dengan tidak mengerjakan tugas, gue memilih mengerjakannya, di bawah sinar lampu emergency.
  5. Lampu di Kamar Mandi Mati


          Lampu penyelamat hidupku. Seterang sinar rembulan. (Padahal kan bulan gak bersinar, karena bulan adalah satelit, bukan bintang.)

    Ini tidak terjadi pada setiap anak kos. Ini hanya terjadi pada anak kos yang ‘beruntung’. Gue termasuk. Dan gue selalu lupa membeli bohlam baru. Sehingga gue memutuskan untuk mandi di bawah cahaya lampu emergency (lampu emergency memang multifungsi). Hingga akhirnya setelah 3 atau 4 hari mandi remang-remang (apa itu mandi remang-remang?), gue akhirnya ingat untuk membeli bohlam. *beer*

  6. Kucing


          Jangan tertipu oleh tampang pura-pura polosnya. Dan oke, kucing di kosan gue tidak sebagus ini.

    Oke. Masalah ini juga hanya terjadi pada anak kos yang ‘beruntung’. Di rumah kos ini, ada jutaan kucing liar. (Oke, gak sampe jutaan, sih) And they are so much annoying! Tidur-tiduran di sendal dan keset gue, ngacak-ngacak tong sampah gue, mengikuti gue setiap gue ngejemur baju, dan ngeong-ngeong sekeras-kerasnya di tengah malam. Herannya, ada aja penghuni kos lain yang sayang sama mereka, ada yang ngasih Whiskas(Beneran loh Whiskas! Lebih mahal dari makanan warteg gue), ada yang ngasih nama Princess ke satu dari monster-monster itu segala. Amit-amit...
  7. Tetangga


          Gantung mereka....

    Masalah ini hampir sama kayak kucing. Bedanya, tetangga gue tidak tiduran di sendal dan keset apalagi ngacak-ngacak tong sampah. Yang mengganggu daripada mereka adalah satu hal. Suara. Mereka berisiknya bener-bener.......... wow. Hari Minggu kemarin, seharusnya gue berbahagia menonton DVD. Tapi, guess what? Exactly. Gak kedengeran. Speaker udah gue kencengin maksimal, masih gak kedengeran, karena suara mereka begitu menggelegar. Kadang saat gue terbangun jam 3 atau 4 pagi, masih kedengeran suara mereka dan lagu yang mereka puter pake speaker—kenceng-kenceng.

Sebetulnya masih banyak permasalahan yang gue alami di sini, antara lain hp rusak, magic jar hampir rusak, saat air galonan menjadi langka, dan lain-lain. Kalo gue inget, mungkin kapan-kapan gue akan menulis hal-hal tidak penting itu (lagi).

Too long post, huh? Gapapa kali ya, itung-itung sebagai hadiah buat kalian karena gue udah lama gak ngepost. See you in next post! Salam anak kos! :3

P.S. Gambar-gambar yang ada di post ini gue ambil dari Google.