April 04, 2013

Kesibukan Maret 2013

Halo, sesuai dengan janji gue pada post sebelumnya, di post ini gue akan menjelaskan apa saja kesibukan gue di bulan lalu, sampe-sampe nggak bisa ngepost.

Dan jawabannya adalah.......................... nggak ada.

Semua kesibukan yang seharusnya udah lewat dari bulan Maret itu, pada mundur ke bulan April. Daripada gue ngulur-ngulur waktu dan baru cerita bulan Mei, gue menyempatkan diri untuk menulis malam ini. Iya, khusus buat kalian para pembaca budiman dimanapun kalian berada.

Pertama. Seharusnya gue melaksanakan Makrab Sasing 2012 sebagai panitia di divisi dekorasi. Namun karena beberapa alasan, acara yang seharusnya dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2013 tersebut diundur ke tanggal 11 April 2013. Padahal gue udah bahagia membayangkan bulan April tanpa dihantui bayang-bayang Makrab...... #okesip

Kedua. Seharusnya gue melaksanakan pengambilan gambar, atau istilah terkenalnya, syuting. Gue bergabung dengan salah satu UKM di fakultas gue sekarang, dan UKM itu bergerak dalam dunia perfilman. Sebagai script writer teladan, gue membuat naskah sesuai dengan ide cerita teman seangkatan gue dengan ngebut. Ya, namanya juga film pendek, sih.. Naskah itu udah siap dan matang pada tanggal 12 Maret 2013, loh. Seharusnya syuting dilakukan pada tanggal 20 Maret 2013. But then, another shit happens. Diundur menjadi tanggal yang masih belum jelas. Pokoknya kalo itu film jadi, gue (pasti) bakalan pamerin di sini dan sekalian gue berikan naskahnya, siapa tau ada yang pengen ngeliat naskah film itu kayak gimana, cuma sekedar mau berbagi. Tapi tunggu filmnya rampung dulu, ya! Ini gue berikan hadiah logo UKM gue:

Ketiga. Ini sih bukan merupakan hal yang gue undur, malah gue kebanyakan ngejalanin hal ini di bulan Maret. Iya. Gue kebanyakan pulang. Awalnya, gue bertekad untuk hanya pulang ke Jakarta satu kali dalam satu bulan. Bulan lalu gue pulang dua kali.. I broke my own promise, yet I didn't feel sorry. :p

Oh iya. Adik kesayangan gue menderita penyakit tipes sejak Kamis, 28 Maret 2013. Sampai post ini dibuat, dia masih dirawat di RSPI. Gue mohon doa kalian untuk kesembuhan my luph, ya, teman-teman sekalian. Gak perlu doa, deh. Kalian ngucapin, 'Semoga cepet sembuh ya adiknya Evita' di dalam hati pada saat ini juga aja, gue udah berterima kasih. :'D

 Infusannya pake stiker beruang..

Udah. Yang bikin gue males ngepost bulan Maret sebenernya cuma tiga itu aja. Kecewa karena 'kesibukan' gue tidak sesibuk yang kalian kira? Maapin saya, ya. Sebagai bonus, gue memberikan kuis menarik yang asyik dan sering sekali kita mainkan sewaktu mudakecil. Lumayan, bisa nostalgia dan iseng-iseng berhadiah, gratis pula. Tinggal klik---> KUIS BONUS.

Sampai disini dulu, ya. Sampai jumpa di lain waktu. Maap juga, pikiran lagi keruh, lagi gak bisa bikin post bagus-bagus. :')

March 20, 2013

Minal 'Aidin wal-Faizin


Hah? Emangnya ini suasana Lebaran, Vit?
Enggak, enggak. Jangan pada negative thinking, dong. (Negatif apanya?)

Lewat post ini, saya mau mohon ampun, bahwa selama bulan Maret saya gak akan ngepost apa-apa (kecuali ini, iya, iya.) dikarenakan kesibukan yang sungguh terpampang nyata, bukan khayalan, dan bukan lain di mulut lain di hati. (Bingung? Silakan cek instagram-nya Syahrini DISINI untuk mendapatkan hiburan gratis.)

Nanti, saat muncul kembali di Bulan April, saya akan memberitahukan kalian semua kesibukan saya, gak perlu ketik reg segala, saya kasih geratistististis langsung dari leptop saya.


See you!

P.S.
Bonus gambar berisi tulisan tangan saya & seperdua ibu jari saya ada di bagian atas post.

February 26, 2013

Bermain dan Menonton



Halo.
Maaf lama nggak ngepost. Gue khilaf. Ampun.
Maklum, gue sebenernya lagi berasa agak sibuk, karena gue harus bikin sebuah naskah film untuk UKM gue di Unpad. Ceritanya tentang senyuman. Tapi, karena cerita dari gue itu belum matang (bahkan naskahnya belom gue selesaikan), kemarin (25/2) gue membuat naskah baru dari cerita punyanya senior di UKM. Jadi, dia ceritain, dan gue menjadikannya naskah. Dan naskah itu jadi dalam kurang dari dua jam (kurang ajar banget kan, giliran cerita sendiri, naskahnya gak jadi-jadi). Ayo bilang wow!
Judul post ini kayak judul lagu barunya Maliq ya.... (Itu mah Berlari dan Tenggelam.....) KRIK!

Oh ya. Kemaren (21/2) gue pulang ke Jakarta dan menghabiskan empat hari tiga malam di sana. Sangat tidak cukup. Gue butuh lebih—sangat lebih, daripada itu.

Di hari Jumat (22/2), gue bermain bersama teman-teman seperjuangan di SMA (Amay, Anita, Atika, Atil, Pupuk), di CL. Pertemuan kali ini bener-bener nggak direncanakan, spontan, dan begitu aja, tiba-tiba jadi. Padahal, dari dulu, kita sering banget bikin janji dan ujung-ujungnya nggak jadi. Pupuk udah jadi cemob (cewek mobil) yang handal. Meskipun waktu masuk mol, ngambil karcis parkirnya harus turun dari mobil dulu, tapi dia berhasil melewati tantangan dari Atika (<-- cewek yang membuat kami nyasar): ngelewatin pasar antah berantah. Kami makan di Pizza Hut, dan waktu mau mesen pake perhitungan ekonomi dulu dari Atil & Anita yang notabene merupakan mahasiswi yang 'masih' belajar Matematika sampe sekarang. Yang laen udah lupa caranya ngitung (mungkin kecuali Pupuk, dia kan anak guru Matematika)! Dan jangan lupakan eye contact yang tercipta antara Amay & abang-abang tukang gali di jalan belakang CL. Mereka masih 98% sama! 2%-nya itu, mereka udah beda, sekarang gak ada yang pake seragam putih abu-abu dan ke 33 setiap Senin sampai Jumat. Itu aja. :')

Oke. Bukan itu yang mau gue bahas. Jadi, di CL, kami menonton Rectoverso, sebuah film produksi Indonesia. Dari film itu, menurut gue yang berhasil ‘ngena’ itu, ya cerita pertama, Malaikat Juga Tahu. Bercerita tentang Abang, seorang pemuda penderita autis dengan quote-nya (quote?) “Senin putih rabu gelap”, “Kurang satu! Kurang satu!” atau “Seratus sempurna, kamu satu, lebih, lebih sempurna”. Bahkan, beberapa penonton nangis di klimaks cerita ini (well done, Lukman Sardi!). Yang lainnya belum bisa ‘ngena’ menurut gue. Firasat, bercerita tentang cewek yang semacem kena sindrom Final Destination gitu. Bagian taman dengan bangkunya, menurut gue klise abis. Ngapain gitu, baca buku aja harus goes sepeda jauh-jauh sampe ke taman sepi? Bangkunya bagus, sih. Cerita Cicak Di Dinding, menurut gue cerita dewasa, dengan adegan-adegan yang tidak terlalu bisa dinikmati oleh mata dan jiwa gue. Ditambah lagi gue geli sama cicak! Kalo Curhat Buat Sahabat, jujur, membosankan bagi gue. Karena sesuai judulnya, isi cerita itu.... ya, curhat. Curhat mulu, nangis mulu, ditelponin mulu. Yang terakhir, Hanya Isyarat, bikin gue pengen main air di pantai.

Dan pandangan gue tentang film Indonesia lagi-lagi tidak berhasil diubah oleh film ini. Jadi, sampai saat ini menurut gue, film Indonesia itu terbagi dua. Yang satu, film-film yang kelasnya tinggi—yang bikin gue pusing karena nggak ngerti dan suka pake kata-kata puitis. Yang satu lagi, film-film yang kelasnya rendah—yang bikin gue ogah nonton dan hobinya masukin adegan panas (yang bukannya bikin panas, malah bikin sakit mata). Gue rasa, gue butuh film yang kelasnya menengah. Bukan standar loh ya, dan bukan film-film yang ngejiplak film luar juga. Kelas menengah di sini adalah, ya film.... mm, gue gak menemukan kata yang tepat. Ya, pokoknya gitu, lah. Tau deh. (Hah?)

Setelah nonton Rectoverso, gue kok jadi ngerasa kalo film Indonesia yang berkualitas biasanya berbentuk seperti cerita pendek yang dipotong-potong dan digabung-gabung, ya? Kayak Cinta Setaman, misalnya. Atau paling enggak, terdiri dari cerita pendek yang ternyata punya hubungan, semacem Berbagi Suami. I am still waiting for Indonesian movies to change my thoughts about them. Gue sih maunya, film buatan gue sendiri, yang ngubah pola pikir gue sendiri. :p

Gimana? Pola pikir kalian sama nggak kayak pola pikir gue? Atau guenya aja yang terlalu aneh? Feel free to share your thoughts about Indonesian movies here, friends! Doain semoga produksi film pendek gue lancar, ya (it will be started in March 1st!).

See you soon!


P.S. Buat yang mau nonton Rectoverso, perhatiin bagian Abang kabur buat nyari sabun, deh. Awalnya, bajunya dimasukin rapi, terus keluar, terus masuk lagi. :p
P.P.S. Pintu kamar kos di kos-kosan Ibunya Abang, mirip pintu kamar kos gue! (Penting banget, Vit..)
P.P.P.S. Semua judul film Indonesia yang gue tulis di post ini bagus. Rectoverso, Cinta Setaman, and Berbagi Suami; you guys have to watch them all. Terutama Berbagi Suami.

February 01, 2013

Malas

2013 sisa 11 bulan lagi! Wihi, cepet banget!

Dua minggu belakangan ini gue menghabiskan waktu di rumah Nenek. Bukan, bukan liburan. Ini ..........ngungsi. Iya, daerah rumah gue emang malu-maluin banget, banjir sepaha gitu. Cih. Banjirnya sih udah surut seminggu lalu, tapi berhubung penghuni rumah bekas banjir itu (yaitu gue dan emak bapak adik...) agak malas membersihkannya, tidak terlihat proses membersihkan yang signifikan. Palingan cuma pulang beberapa jam, bersih-bersih sedikit, dan begitu capek, ya balik ke rumah Nenek. Penyakit malas yang gue idap emang udah turunan keluarga kali, ya.

Dalam skala 1-10, kemalasan gue mungkin dulu masih di angka lima. Gini-gini, kadang gue rajin, kali. Gini-gini, kalo di rumah, gue kadang nyuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika, dan beresin meja belajar.
Semenjak ngekos, kemalasan gue bertambah sedikit demi sedikit. Kayaknya sih sekarang sudah mencapai angka tujuh. Gue cuma nyuci piring kalo piring di kosan udah abis (berarti gue gak punya tempat buat makan lagi), nyapu cuma kalo bener-bener kotor, bisa sebulan lebih nggak ngepel, nyetrika hampir sebulan sekali, dan meja belajar? Nggak usah diberesin, soalnya nggak pernah dipake. Soalnya yang punya semakin malas belajar.


Inti dari post ini? Gue harus tobat. Udah. Bye.

January 10, 2013

Antara Single dan Rokok?

Post pertama tahun 2013. Oye!

Hari ini UAS resmi selesai—diakhiri dengan mata kuliah paling sesuatu.

Oh ya, beberapa hari belakangan ini, gue selalu diselamatkan dari keadaan darurat. Contohnya?
Pertama; sejak hari Selasa sampai Kamis minggu ini (tiga hari UAS berturut-turut!), gue selalu menyalakan dua alarm sekaligus di pukul tujuh pagi (dengan harapan, gue akan bangun tepat waktu). Dan yang terjadi adalah.. iya, gue bangun. Bangun buat matiin kedua alarm itu dan tidur lagi. Selalu begitu setiap paginya, padahal di malam hari tekad gue sudah bulat untuk langsung bangun. Tapi..... entah kenapa, gue selalu bangun setengah jam sebelum UASnya mulai. Well, gue gak mandi pagi selama tiga hari. Mihihi.
Kedua; adalah suatu kebodohan bila seseorang tidak bereaksi apa-apa saat seekor ular berwarna hijau sepanjang kurang lebih satu setengah meter jatuh dari atas pohon, tepat ke sebelah kiri orang itu. Orang itu.. gue. Hari Selasa lalu, gue bergegas kembali ke kosan setelah selesai mengarang mengerjakan 65 soal Linguistik. Saat gue sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh. Ternyata ular. Ular! Gue cuma bengong. Sesaat, mata gue dan mata ular itu bertatapan... Eaa.... Untung gue gak dimakan (ya emang ulernya tipe yang kecil panjang sih, masa iya makan orang segede gue), ular itu melata menuju semak-semak, meninggalkan gue yang masih bengong. Sekitar satu jam setelah kejadian itu, gue baru sadar kalo gue.. seharusnya gak bengong.
Ketiga; hmmm................oke. Dua aja cukup, ya (Keluarga Berencana?). Yang lainnya gak terlalu penting dan gue udah agak lupa.

Tahun lalu (2012), gue membaca quote dari album terbarunya Mika. Iya, Mika yang ganteng itu. Beginilah quote-nya;
Love is a drug and you are my cigarette.
Well, gue kemudian menganalisis quote itu. Keren ya, menganalisis. Gue menciptakan quote baru dari quote itu. Beginilah bunyinya;
Love is a drug and you are my cigarette. But, I don't smoke.
Ya. Itu adalah quote yang gue persembahkan untuk kaum-kaum fakir asmara yang tidak merokok. Iya, gue salah satunya. Single selama delapan belas tahun satu bulan dan dua hari. Berkelas banget, kayak orang-orang yang mengejar karier gitu.

Ya, sekalian nyinggung rokok sedikit deh. Gue juga perokok. Tapi perokok pasif. Gue terpaksa menghirup asap berbau tidak enak dan bikin ngerasa sesak itu di banyak tempat. Mungkin ada orang yang bilang, "Buat apa bertahan jadi perokok pasif kalo bahayanya lebih besar daripada perokok aktif? Kenapa nggak jadi perokok aktif sekalian?" Well, itu gue sendiri yang bilang, sih. Dan gue menyanggah opini gue sendiri. Sounds weird, but yes, I am a weirdo. Menurut gue, itu yang namanya prinsip. Kalo dari awal emang nggak mau ngerokok, nggak ada yang bisa bikin kita ngerokok. Semacam komitmen, mungkin. Yaa.. mungkin para perokok aktif seharusnya bisa menghargai prinsip ini dengan tidak merokok di tempat-tempat umum. Amin. Amin banget. Sampai jumpa di post selanjutnya, di 2013 saya janji bakal rajin ngepost! (Jangan lupa setelah baca janji saya ini, diaminin, ya.)