February 01, 2013

Malas

2013 sisa 11 bulan lagi! Wihi, cepet banget!

Dua minggu belakangan ini gue menghabiskan waktu di rumah Nenek. Bukan, bukan liburan. Ini ..........ngungsi. Iya, daerah rumah gue emang malu-maluin banget, banjir sepaha gitu. Cih. Banjirnya sih udah surut seminggu lalu, tapi berhubung penghuni rumah bekas banjir itu (yaitu gue dan emak bapak adik...) agak malas membersihkannya, tidak terlihat proses membersihkan yang signifikan. Palingan cuma pulang beberapa jam, bersih-bersih sedikit, dan begitu capek, ya balik ke rumah Nenek. Penyakit malas yang gue idap emang udah turunan keluarga kali, ya.

Dalam skala 1-10, kemalasan gue mungkin dulu masih di angka lima. Gini-gini, kadang gue rajin, kali. Gini-gini, kalo di rumah, gue kadang nyuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika, dan beresin meja belajar.
Semenjak ngekos, kemalasan gue bertambah sedikit demi sedikit. Kayaknya sih sekarang sudah mencapai angka tujuh. Gue cuma nyuci piring kalo piring di kosan udah abis (berarti gue gak punya tempat buat makan lagi), nyapu cuma kalo bener-bener kotor, bisa sebulan lebih nggak ngepel, nyetrika hampir sebulan sekali, dan meja belajar? Nggak usah diberesin, soalnya nggak pernah dipake. Soalnya yang punya semakin malas belajar.


Inti dari post ini? Gue harus tobat. Udah. Bye.

January 10, 2013

Antara Single dan Rokok?

Post pertama tahun 2013. Oye!

Hari ini UAS resmi selesai—diakhiri dengan mata kuliah paling sesuatu.

Oh ya, beberapa hari belakangan ini, gue selalu diselamatkan dari keadaan darurat. Contohnya?
Pertama; sejak hari Selasa sampai Kamis minggu ini (tiga hari UAS berturut-turut!), gue selalu menyalakan dua alarm sekaligus di pukul tujuh pagi (dengan harapan, gue akan bangun tepat waktu). Dan yang terjadi adalah.. iya, gue bangun. Bangun buat matiin kedua alarm itu dan tidur lagi. Selalu begitu setiap paginya, padahal di malam hari tekad gue sudah bulat untuk langsung bangun. Tapi..... entah kenapa, gue selalu bangun setengah jam sebelum UASnya mulai. Well, gue gak mandi pagi selama tiga hari. Mihihi.
Kedua; adalah suatu kebodohan bila seseorang tidak bereaksi apa-apa saat seekor ular berwarna hijau sepanjang kurang lebih satu setengah meter jatuh dari atas pohon, tepat ke sebelah kiri orang itu. Orang itu.. gue. Hari Selasa lalu, gue bergegas kembali ke kosan setelah selesai mengarang mengerjakan 65 soal Linguistik. Saat gue sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh. Ternyata ular. Ular! Gue cuma bengong. Sesaat, mata gue dan mata ular itu bertatapan... Eaa.... Untung gue gak dimakan (ya emang ulernya tipe yang kecil panjang sih, masa iya makan orang segede gue), ular itu melata menuju semak-semak, meninggalkan gue yang masih bengong. Sekitar satu jam setelah kejadian itu, gue baru sadar kalo gue.. seharusnya gak bengong.
Ketiga; hmmm................oke. Dua aja cukup, ya (Keluarga Berencana?). Yang lainnya gak terlalu penting dan gue udah agak lupa.

Tahun lalu (2012), gue membaca quote dari album terbarunya Mika. Iya, Mika yang ganteng itu. Beginilah quote-nya;
Love is a drug and you are my cigarette.
Well, gue kemudian menganalisis quote itu. Keren ya, menganalisis. Gue menciptakan quote baru dari quote itu. Beginilah bunyinya;
Love is a drug and you are my cigarette. But, I don't smoke.
Ya. Itu adalah quote yang gue persembahkan untuk kaum-kaum fakir asmara yang tidak merokok. Iya, gue salah satunya. Single selama delapan belas tahun satu bulan dan dua hari. Berkelas banget, kayak orang-orang yang mengejar karier gitu.

Ya, sekalian nyinggung rokok sedikit deh. Gue juga perokok. Tapi perokok pasif. Gue terpaksa menghirup asap berbau tidak enak dan bikin ngerasa sesak itu di banyak tempat. Mungkin ada orang yang bilang, "Buat apa bertahan jadi perokok pasif kalo bahayanya lebih besar daripada perokok aktif? Kenapa nggak jadi perokok aktif sekalian?" Well, itu gue sendiri yang bilang, sih. Dan gue menyanggah opini gue sendiri. Sounds weird, but yes, I am a weirdo. Menurut gue, itu yang namanya prinsip. Kalo dari awal emang nggak mau ngerokok, nggak ada yang bisa bikin kita ngerokok. Semacam komitmen, mungkin. Yaa.. mungkin para perokok aktif seharusnya bisa menghargai prinsip ini dengan tidak merokok di tempat-tempat umum. Amin. Amin banget. Sampai jumpa di post selanjutnya, di 2013 saya janji bakal rajin ngepost! (Jangan lupa setelah baca janji saya ini, diaminin, ya.)


December 31, 2012

2012 + 1

Jadi, sekarang udah penghujung tahun 2012? Ini (lagi-lagi) waktu yang terlalu cepet, atau gimana sih?

Tiba-tiba jadi inget, bahwa tepat tahun lalu, gue sedang berada di Puncak, nontonin sekaligus masang kembang api di teras villa bareng-bareng keluarga. Sekarang? Gue sedang berduaan sama si dia di kamar kos sambil nonton Sailor Moon(si dia adalah laptop tercinta). Well, this is my very first new year eve without family, even worse.. without anyone. But still, I thank God for everything I have got this far.

Kalo mau dibuat daftar terima kasih gue sepanjang 2012, gue rasa sulit. Di samping fakta bahwa ingatan gue kadang-kadang buruk sekali, menurut gue.. terlalu banyak hal yang harus gue syukuri. Hmm.. Semua hal emang patut untuk disyukuri—seharusnya.

Atas keluarga 'warna-warni' saya yang meskipun jauh secara fisik, tapi dekat di hati #EAA, I thank You. Atas teman-teman 'gila' yang berkenan untuk bersinggungan dengan garis kehidupan saya, I thank You. Atas kelulusan saya dari SMA dengan nilai yang sangat baik untuk orang semales saya, I thank You. Atas diterimanya saya di salah satu perguruan tinggi negeri yang bagus, I thank You. Atas kekuatan hingga saya masih bisa meneruskan komitmen saya sendiri, I thank You. Atas nafas sampai detik ini, I thank You.

Terima kasih, Tuhan, buat selalu ngedengerin doa saya selama tahun 2012 (dan juga tahun-tahun sebelumnya dan yang akan datang! Pasti!). Terima kasih untuk segala doa yang terkabul, dan lebih terima kasih lagi, untuk segala doa yang dijawab dengan lebih dahsyat dari yang saya bayangin.

Jadi, besok udah tahun depan. 2013 itu 2012 ditambah satu, jadi harus ada yang 'nambah' daripada 2012, kalo bisa, segala-galanya yang positif dan baik, bisa nambah, ya! Asal jangan pijet yang nambah, nanti jadi pijet plus-plus (apa ini? Jayus sekali).

Oke deh. Sekarang nyalain kembang api lagi, ya. Yang gede kembang apinya, biar kedengeran sampe tempat gue sekarang, Jatinangor.

Selamat tahun baru!!

December 07, 2012

Spontanitas



Wah, sudah bulan Desember lagi—sudah di penghujung tahun lagi. Ini... gue yang terlalu santai, atau waktu yang terlalu cepet, sih?

Ada banyak sekali rencana sekilas (hanya melintas di otak aja, contohnya, “Gue mau ngelakuin ini ah”) yang belum tercapai dari awal 2012 sampai detik ini. Soal dunia tulis-menulis, misalnya. Tahun ini gue tidak menghasilkan apa-apa kecuali postingan di blog. Padahal sebenernya gue pengen ngirim cerpen ke majalah lagi(honornya lumayan, bro). Kesulitannya adalah, otak gue belum cukup dewasa untuk mampu membuat cerpen ‘berat’, sementara kalo bikin cerpen-cerpen a la anak SMP-SMA, gue malah ngerasa kacangan. Dilema. Juga soal dunia kuliah, gue nggak tau kenapa malah nyasar di Sastra Inggris—padahal maunya Seni Rupa, tapi gue juga nggak tau kenapa gue menuliskan Sastra Inggris sebagai pilihan pertama di SNMPTN tulis.
Ada apa dengan.. otak.. saya?

Sejauh ini, gue selalu nurut aja sama segala hal tiba-tiba yang ada di kehidupan gue. Tiba-tiba lulus SMA, tiba-tiba lolos SNMPTN, tiba-tiba dapet kosan tanpa nyari, tiba-tiba cinta datang kepadaku¯. Gue akui, gue adalah pemalas akut. Gue jarang sekali berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu, gue lebih banyak cuma berusaha dengan kadar yang gue inginkan(tentu saja yang tidak membuat gue lelah) kemudian berserah. Dan sejauh ini, banyak hal tiba-tiba yang datang menyapa, dan kebanyakan langsung gue iyakan.

Tiba-tiba saja hidup gue jadi hidup yang penuh dengan kejadian-kejadian spontan. Dulu, waktu kecil, setiap ditanya mau jadi apa, gue jawab “Mau jadi pelukis!” Nah, sekarang, mungkin gue nggak akan jawab seyakin itu. Jadi apa aja yang jujur? Kedengerannya terlalu religius, ya. Tapi emang harusnya gitu, kan?  Dan gue—sekarang ini—lebih sering menjawab, “Liat aja nanti.” Kedengerannya kayak orang nggak punya tujuan hidup? Lah, tujuan hidup semua orang kan, mati terus masuk surga? Nggak usah pengen punya, emang udah punya dari sononya kok. Dan, emangnya ada orang yang nggak mau masuk surga? Jadi, sebelum ‘tujuan hidup’ itu tercapai, mungkin aja gue akan menjadi pelukis, penulis, desainer, mahasiswa seni, dan siapa yang bisa menjamin kalo gue nggak mungkin jadi astronot atau ilmuwan? Ya, meskipun itu khayalan tingkat dewa, tapi... who knows? Kalo tiba-tiba Tuhan berkehendak agar gue menjadi seorang supir angkot, gue bisa apa? Ya, paling nyupir angkot jadi kerjaan sampingan, kalo lagi bosen di kantor Apple. (kan gue juga bisa jadi CEO Apple?)

Jadi, inti dari curahan hati gue di post kali ini adalah... bahwa gue bisa menjadi apa aja, kapan aja, dan gue tidak pernah menargetkan atau meresolusikannya untuk terwujud dalam kurun waktu tertentu. Yang bisa gue lakukan hanya usaha, kalo bisa yang nggak bikin capek. Sisanya? Berserah. Gue nggak mau terlalu ambisius dengan sesuatu yang gue harapkan, supaya gue tetap bisa tersenyum saat banyak hal tiba-tiba yang tanpa gue sadari, datang menghampiri gue. Tuhan tahu tentang gue lebih daripada gue mengetahui diri gue sendiri. 


He knows the answers of all our unanswered questions; the solutions of all our unsolved problems.


Selamat malam. Coba deh: tutup mata lo, bayangkan semua hal yang sudah terjadi—yang sebetulnya di luar rencana lo, tapi lo menikmatinya. Dan jangan lupa, .....tersenyumlah! :-D

P.S.
(.....gue bijaksana banget, ya?)(Terharu sendiri)(Dibakar massa)

November 21, 2012

Nonton


Halo. Akhir-akhir ini gue nggak sibuk, tapi herannya, nggak pengen nge-blog. Tapi hari ini, pengen.

Selasa lalu, gue nonton Breaking Dawn Part II di Jatinangor Town Square, bisa jalan kaki dari kosan. Murah meriah! Dengan Rp. 33.000,-, gue mendapatkan satu tiket, satu cup popcorn ukuran kecil dan satu gelas Cola. Gue nonton sendirian. Dan apa yang terjadi? Banyak sekali mata yang memandangi gue dengan tatapan aneh. Mereka pasti sirik akan kemandirian gue.

Atau mungkin enggak. Mungkin mereka menertawakan gue dalam hati. Pft. Emangnya nonton sendirian itu dosa atau aib? Enggak kan? Nonton ke bioskop sendirian merupakan hobi gue, sebetulnya. Dan nggak jauh beda sama nonton bareng teman atau pacar, sih, tapi punya beberapa kelebihan. Apa sajakah itu?

  1. Resiko untuk diganggu saat menonton semakin kecil.
    Saat menonton bersama teman yang (sialnya) menyebalkan, akan timbul kemungkinan dia AKAN MENGGANGGU KITA SAAT MENONTON. Dan hal itu sangat tidak gue sukai. Ada beberapa tipe teman menyebalkan saat menonton, sebagai contoh;

      • Si Ingin Tahu
        Tipe satu ini adalah tipe yang sangat umum, gemar sekali bertanya tanpa kenal waktu. Kadang bingung, sebetulnya mereka itu ‘ingin tahu’ atau ‘ingin diplester mulutnya kemudian dilempar ke dalam kawah Gunung Mordor'.
      • Si Gelisah
        Sebentar-sebentar menaikkan kaki, kemudian menggaruk-garuk punggung, kemudian ngupil, kemudian meperin upil di kolong bangku bioskop, kemudian latihan SKJ, kemudian menggerakkan tangan sampai kita tersenggol, kemudian kakinya tidak sengaja menendang kaki kita. Oke. Mereka mungkin tidak semenyebalkan tipe pertama, namun memiliki daya ganggu yang tidak kalah besar.
      • Si Penyanyi
        Orang ini tidak fokus kepada cerita, namun kepada soundtrack film. Di tengah film, saat yang lain serius, dia malah nyanyi. Iya sih, lagunya emang sesuai sama yang di film. Tapi suaranya mengganggu pendengaran, mending kalo suaranya 11-12 sama penyanyi aslinya, lah kalo suaranya 11-120? (Well, ini terjadi saat gue menonton Breaking Dawn Part II kemarin. Embak-embak di sebelah gue ikut bernyanyi A Thousand Years di tengah film dengan suaranya yang..... ah, sudahlah.)(Padahal gue sudah nonton sendirian untuk memperkecil resiko terganggu, tapi nyatanya.....)
  2. Kita tidak perlu menemani dia ke toilet
    Yap. Apalagi cewek. Apalagi akhir-akhir ini lagi beredar cerita horor di bioskop. Seorang cewek lagi di dalam salah satu bilik toilet bioskop yang sepi, kemudian ada yang ngetuk pintu.... kemudian suara ketukan pintu makin banyak..... begitu dibuka, BLAM! Ada banyak hantu di depan pintu! Nah. Kalo temen kebelet pipis di tengah film, apa lo mau meninggalkan film itu untuk menemaninya? Apalagi kalo dia kebelet pup. Makin lama aja waktu ‘berharga’ kita yang terbuang sia-sia buat nemenin dia doang. Ini. Sangat. Menyebalkan.
  3. Kita tidak perlu membayari tiketnya
    Ini khusus laki-laki. Biasanya kan, kaum laki-laki suka gitu. Suka pura-pura tegar. Suka menyimpan jeritannya saat melihat dompetnya menipis di dalam hati. Makanya, solusinya adalah....... menontonlah SENDIRIAN! B-)



Gue juga mau berbagi tips buat kalian yang mau nonton sendirian, tapi belum pede. Gini nih.
  • Gunakanlah headset saat mengantri tiket. Dengarkanlah lagu, atau kalo batre abis, pura-pura nelpon aja, toh nggak bakal ada yang tau. Pokoknya bertingkahlah senyaman mungkin, jangan gelisah!
  • Bayarlah tiket dengan uang pas, supaya nggak ada kembalian, lalu ambillah tiket dari embak-embak loket dengan cepat. Biasanya, ada aja orang iseng yang ngeliat kembalian kita, terus ngetawain. Kan kalo nggak ada kembalian kan, dia nggak bisa nebak berapa tiket yang kita beli. Huahahaha!
  • Kalo lagi ada duit lebih, sekalian aja beli dua/lebih tiket film yang berbeda, tapi bayarnya jangan dengan uang pas, biar ada kembalian, biar orang-orang ngiranya kita nggak nonton sendiri..
  • Kalo bisa, mengantrilah di belakang orang pacaran. Terus, tanya embak-embak loketnya, dia di nomor berapa. Nah, pilih aja tempat di sebelah mereka. Soalnya biasanya, mereka nggak akan bertingkah mengganggu(nanya-nanya/ gerak-gerak tidak jelas/ nyanyi-nyanyi) karena bakalan sibuk pacaran sepanjang film, apalagi pasangan baru, biasanya cuma malu-malu sepanjang film. (Ya, meskipun gue pernah menemukan orang pacaran yang menyebalkan, dengan si cewek bodoh bertanya sepanjang film dan si cowok pelit hanya membeli satu cup popcorn buat berdua.)



Sudahlah. Segini aja post kali ini. Gue udah ngerasa arah post ini mulai tak menentu. Harus segera dihentikan. Selamat menonton sendirian! Kalian pasti bahagia!