March 20, 2013

Minal 'Aidin wal-Faizin


Hah? Emangnya ini suasana Lebaran, Vit?
Enggak, enggak. Jangan pada negative thinking, dong. (Negatif apanya?)

Lewat post ini, saya mau mohon ampun, bahwa selama bulan Maret saya gak akan ngepost apa-apa (kecuali ini, iya, iya.) dikarenakan kesibukan yang sungguh terpampang nyata, bukan khayalan, dan bukan lain di mulut lain di hati. (Bingung? Silakan cek instagram-nya Syahrini DISINI untuk mendapatkan hiburan gratis.)

Nanti, saat muncul kembali di Bulan April, saya akan memberitahukan kalian semua kesibukan saya, gak perlu ketik reg segala, saya kasih geratistististis langsung dari leptop saya.


See you!

P.S.
Bonus gambar berisi tulisan tangan saya & seperdua ibu jari saya ada di bagian atas post.

February 26, 2013

Bermain dan Menonton



Halo.
Maaf lama nggak ngepost. Gue khilaf. Ampun.
Maklum, gue sebenernya lagi berasa agak sibuk, karena gue harus bikin sebuah naskah film untuk UKM gue di Unpad. Ceritanya tentang senyuman. Tapi, karena cerita dari gue itu belum matang (bahkan naskahnya belom gue selesaikan), kemarin (25/2) gue membuat naskah baru dari cerita punyanya senior di UKM. Jadi, dia ceritain, dan gue menjadikannya naskah. Dan naskah itu jadi dalam kurang dari dua jam (kurang ajar banget kan, giliran cerita sendiri, naskahnya gak jadi-jadi). Ayo bilang wow!
Judul post ini kayak judul lagu barunya Maliq ya.... (Itu mah Berlari dan Tenggelam.....) KRIK!

Oh ya. Kemaren (21/2) gue pulang ke Jakarta dan menghabiskan empat hari tiga malam di sana. Sangat tidak cukup. Gue butuh lebih—sangat lebih, daripada itu.

Di hari Jumat (22/2), gue bermain bersama teman-teman seperjuangan di SMA (Amay, Anita, Atika, Atil, Pupuk), di CL. Pertemuan kali ini bener-bener nggak direncanakan, spontan, dan begitu aja, tiba-tiba jadi. Padahal, dari dulu, kita sering banget bikin janji dan ujung-ujungnya nggak jadi. Pupuk udah jadi cemob (cewek mobil) yang handal. Meskipun waktu masuk mol, ngambil karcis parkirnya harus turun dari mobil dulu, tapi dia berhasil melewati tantangan dari Atika (<-- cewek yang membuat kami nyasar): ngelewatin pasar antah berantah. Kami makan di Pizza Hut, dan waktu mau mesen pake perhitungan ekonomi dulu dari Atil & Anita yang notabene merupakan mahasiswi yang 'masih' belajar Matematika sampe sekarang. Yang laen udah lupa caranya ngitung (mungkin kecuali Pupuk, dia kan anak guru Matematika)! Dan jangan lupakan eye contact yang tercipta antara Amay & abang-abang tukang gali di jalan belakang CL. Mereka masih 98% sama! 2%-nya itu, mereka udah beda, sekarang gak ada yang pake seragam putih abu-abu dan ke 33 setiap Senin sampai Jumat. Itu aja. :')

Oke. Bukan itu yang mau gue bahas. Jadi, di CL, kami menonton Rectoverso, sebuah film produksi Indonesia. Dari film itu, menurut gue yang berhasil ‘ngena’ itu, ya cerita pertama, Malaikat Juga Tahu. Bercerita tentang Abang, seorang pemuda penderita autis dengan quote-nya (quote?) “Senin putih rabu gelap”, “Kurang satu! Kurang satu!” atau “Seratus sempurna, kamu satu, lebih, lebih sempurna”. Bahkan, beberapa penonton nangis di klimaks cerita ini (well done, Lukman Sardi!). Yang lainnya belum bisa ‘ngena’ menurut gue. Firasat, bercerita tentang cewek yang semacem kena sindrom Final Destination gitu. Bagian taman dengan bangkunya, menurut gue klise abis. Ngapain gitu, baca buku aja harus goes sepeda jauh-jauh sampe ke taman sepi? Bangkunya bagus, sih. Cerita Cicak Di Dinding, menurut gue cerita dewasa, dengan adegan-adegan yang tidak terlalu bisa dinikmati oleh mata dan jiwa gue. Ditambah lagi gue geli sama cicak! Kalo Curhat Buat Sahabat, jujur, membosankan bagi gue. Karena sesuai judulnya, isi cerita itu.... ya, curhat. Curhat mulu, nangis mulu, ditelponin mulu. Yang terakhir, Hanya Isyarat, bikin gue pengen main air di pantai.

Dan pandangan gue tentang film Indonesia lagi-lagi tidak berhasil diubah oleh film ini. Jadi, sampai saat ini menurut gue, film Indonesia itu terbagi dua. Yang satu, film-film yang kelasnya tinggi—yang bikin gue pusing karena nggak ngerti dan suka pake kata-kata puitis. Yang satu lagi, film-film yang kelasnya rendah—yang bikin gue ogah nonton dan hobinya masukin adegan panas (yang bukannya bikin panas, malah bikin sakit mata). Gue rasa, gue butuh film yang kelasnya menengah. Bukan standar loh ya, dan bukan film-film yang ngejiplak film luar juga. Kelas menengah di sini adalah, ya film.... mm, gue gak menemukan kata yang tepat. Ya, pokoknya gitu, lah. Tau deh. (Hah?)

Setelah nonton Rectoverso, gue kok jadi ngerasa kalo film Indonesia yang berkualitas biasanya berbentuk seperti cerita pendek yang dipotong-potong dan digabung-gabung, ya? Kayak Cinta Setaman, misalnya. Atau paling enggak, terdiri dari cerita pendek yang ternyata punya hubungan, semacem Berbagi Suami. I am still waiting for Indonesian movies to change my thoughts about them. Gue sih maunya, film buatan gue sendiri, yang ngubah pola pikir gue sendiri. :p

Gimana? Pola pikir kalian sama nggak kayak pola pikir gue? Atau guenya aja yang terlalu aneh? Feel free to share your thoughts about Indonesian movies here, friends! Doain semoga produksi film pendek gue lancar, ya (it will be started in March 1st!).

See you soon!


P.S. Buat yang mau nonton Rectoverso, perhatiin bagian Abang kabur buat nyari sabun, deh. Awalnya, bajunya dimasukin rapi, terus keluar, terus masuk lagi. :p
P.P.S. Pintu kamar kos di kos-kosan Ibunya Abang, mirip pintu kamar kos gue! (Penting banget, Vit..)
P.P.P.S. Semua judul film Indonesia yang gue tulis di post ini bagus. Rectoverso, Cinta Setaman, and Berbagi Suami; you guys have to watch them all. Terutama Berbagi Suami.

February 01, 2013

Malas

2013 sisa 11 bulan lagi! Wihi, cepet banget!

Dua minggu belakangan ini gue menghabiskan waktu di rumah Nenek. Bukan, bukan liburan. Ini ..........ngungsi. Iya, daerah rumah gue emang malu-maluin banget, banjir sepaha gitu. Cih. Banjirnya sih udah surut seminggu lalu, tapi berhubung penghuni rumah bekas banjir itu (yaitu gue dan emak bapak adik...) agak malas membersihkannya, tidak terlihat proses membersihkan yang signifikan. Palingan cuma pulang beberapa jam, bersih-bersih sedikit, dan begitu capek, ya balik ke rumah Nenek. Penyakit malas yang gue idap emang udah turunan keluarga kali, ya.

Dalam skala 1-10, kemalasan gue mungkin dulu masih di angka lima. Gini-gini, kadang gue rajin, kali. Gini-gini, kalo di rumah, gue kadang nyuci piring, nyapu, ngepel, nyetrika, dan beresin meja belajar.
Semenjak ngekos, kemalasan gue bertambah sedikit demi sedikit. Kayaknya sih sekarang sudah mencapai angka tujuh. Gue cuma nyuci piring kalo piring di kosan udah abis (berarti gue gak punya tempat buat makan lagi), nyapu cuma kalo bener-bener kotor, bisa sebulan lebih nggak ngepel, nyetrika hampir sebulan sekali, dan meja belajar? Nggak usah diberesin, soalnya nggak pernah dipake. Soalnya yang punya semakin malas belajar.


Inti dari post ini? Gue harus tobat. Udah. Bye.

January 10, 2013

Antara Single dan Rokok?

Post pertama tahun 2013. Oye!

Hari ini UAS resmi selesai—diakhiri dengan mata kuliah paling sesuatu.

Oh ya, beberapa hari belakangan ini, gue selalu diselamatkan dari keadaan darurat. Contohnya?
Pertama; sejak hari Selasa sampai Kamis minggu ini (tiga hari UAS berturut-turut!), gue selalu menyalakan dua alarm sekaligus di pukul tujuh pagi (dengan harapan, gue akan bangun tepat waktu). Dan yang terjadi adalah.. iya, gue bangun. Bangun buat matiin kedua alarm itu dan tidur lagi. Selalu begitu setiap paginya, padahal di malam hari tekad gue sudah bulat untuk langsung bangun. Tapi..... entah kenapa, gue selalu bangun setengah jam sebelum UASnya mulai. Well, gue gak mandi pagi selama tiga hari. Mihihi.
Kedua; adalah suatu kebodohan bila seseorang tidak bereaksi apa-apa saat seekor ular berwarna hijau sepanjang kurang lebih satu setengah meter jatuh dari atas pohon, tepat ke sebelah kiri orang itu. Orang itu.. gue. Hari Selasa lalu, gue bergegas kembali ke kosan setelah selesai mengarang mengerjakan 65 soal Linguistik. Saat gue sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh. Ternyata ular. Ular! Gue cuma bengong. Sesaat, mata gue dan mata ular itu bertatapan... Eaa.... Untung gue gak dimakan (ya emang ulernya tipe yang kecil panjang sih, masa iya makan orang segede gue), ular itu melata menuju semak-semak, meninggalkan gue yang masih bengong. Sekitar satu jam setelah kejadian itu, gue baru sadar kalo gue.. seharusnya gak bengong.
Ketiga; hmmm................oke. Dua aja cukup, ya (Keluarga Berencana?). Yang lainnya gak terlalu penting dan gue udah agak lupa.

Tahun lalu (2012), gue membaca quote dari album terbarunya Mika. Iya, Mika yang ganteng itu. Beginilah quote-nya;
Love is a drug and you are my cigarette.
Well, gue kemudian menganalisis quote itu. Keren ya, menganalisis. Gue menciptakan quote baru dari quote itu. Beginilah bunyinya;
Love is a drug and you are my cigarette. But, I don't smoke.
Ya. Itu adalah quote yang gue persembahkan untuk kaum-kaum fakir asmara yang tidak merokok. Iya, gue salah satunya. Single selama delapan belas tahun satu bulan dan dua hari. Berkelas banget, kayak orang-orang yang mengejar karier gitu.

Ya, sekalian nyinggung rokok sedikit deh. Gue juga perokok. Tapi perokok pasif. Gue terpaksa menghirup asap berbau tidak enak dan bikin ngerasa sesak itu di banyak tempat. Mungkin ada orang yang bilang, "Buat apa bertahan jadi perokok pasif kalo bahayanya lebih besar daripada perokok aktif? Kenapa nggak jadi perokok aktif sekalian?" Well, itu gue sendiri yang bilang, sih. Dan gue menyanggah opini gue sendiri. Sounds weird, but yes, I am a weirdo. Menurut gue, itu yang namanya prinsip. Kalo dari awal emang nggak mau ngerokok, nggak ada yang bisa bikin kita ngerokok. Semacam komitmen, mungkin. Yaa.. mungkin para perokok aktif seharusnya bisa menghargai prinsip ini dengan tidak merokok di tempat-tempat umum. Amin. Amin banget. Sampai jumpa di post selanjutnya, di 2013 saya janji bakal rajin ngepost! (Jangan lupa setelah baca janji saya ini, diaminin, ya.)


December 31, 2012

2012 + 1

Jadi, sekarang udah penghujung tahun 2012? Ini (lagi-lagi) waktu yang terlalu cepet, atau gimana sih?

Tiba-tiba jadi inget, bahwa tepat tahun lalu, gue sedang berada di Puncak, nontonin sekaligus masang kembang api di teras villa bareng-bareng keluarga. Sekarang? Gue sedang berduaan sama si dia di kamar kos sambil nonton Sailor Moon(si dia adalah laptop tercinta). Well, this is my very first new year eve without family, even worse.. without anyone. But still, I thank God for everything I have got this far.

Kalo mau dibuat daftar terima kasih gue sepanjang 2012, gue rasa sulit. Di samping fakta bahwa ingatan gue kadang-kadang buruk sekali, menurut gue.. terlalu banyak hal yang harus gue syukuri. Hmm.. Semua hal emang patut untuk disyukuri—seharusnya.

Atas keluarga 'warna-warni' saya yang meskipun jauh secara fisik, tapi dekat di hati #EAA, I thank You. Atas teman-teman 'gila' yang berkenan untuk bersinggungan dengan garis kehidupan saya, I thank You. Atas kelulusan saya dari SMA dengan nilai yang sangat baik untuk orang semales saya, I thank You. Atas diterimanya saya di salah satu perguruan tinggi negeri yang bagus, I thank You. Atas kekuatan hingga saya masih bisa meneruskan komitmen saya sendiri, I thank You. Atas nafas sampai detik ini, I thank You.

Terima kasih, Tuhan, buat selalu ngedengerin doa saya selama tahun 2012 (dan juga tahun-tahun sebelumnya dan yang akan datang! Pasti!). Terima kasih untuk segala doa yang terkabul, dan lebih terima kasih lagi, untuk segala doa yang dijawab dengan lebih dahsyat dari yang saya bayangin.

Jadi, besok udah tahun depan. 2013 itu 2012 ditambah satu, jadi harus ada yang 'nambah' daripada 2012, kalo bisa, segala-galanya yang positif dan baik, bisa nambah, ya! Asal jangan pijet yang nambah, nanti jadi pijet plus-plus (apa ini? Jayus sekali).

Oke deh. Sekarang nyalain kembang api lagi, ya. Yang gede kembang apinya, biar kedengeran sampe tempat gue sekarang, Jatinangor.

Selamat tahun baru!!