September 09, 2013

Ketiga


Intro: Ketiga? Lo jadi orang ketiga? Emang udah ngerasain jadi tokoh yang pertama? #heningpanjang #tolongvitinibukaninstagramjadigakusahpakehastag

Tons of sorry for being such an irresponsible blogger.

Oke, udah berapa bulan gue nggak berkoar-koar disini? Satu? Dua? Tiga? Tolong jangan rajam aku..


Oh iya. Terima kasih ya buat siapapun yang mention, sms, bbm, nanya langsung, ataupun nanya di dalem hati perihal mengapa blog ini gue telantarkan berbulan-bulan. Aaaaah, I love you guys! Gue tau dalam lubuk hati kalian yang terdalam, kalian merindukan tulisan gue. *buang ingus*


Udahlah ya, lupain aja. Poin yang terpenting adalah kehadiran gue saat ini, bukan? *dihajar massa* Btw, selamat bulan September guys! Sejak bulan lalu, gue resmi punya adik angkatan. Serem? Iya. Kayaknya baru aja nyari-nyari kosan, eh tau-tau udah setahun mengembara di Jatinangor dan kosan dipenuhi maba yang tidak seangkatan sama gue. Intinya: gue udah bukan maba, gue udah semester tiga. Selain punya adik angkatan, gue juga lupa mengumumkan bahwa tahun ini gue kedatangan tiga orang adik sepupu baru—satu cowok dan dua cewek. Those babies (Puji Tuhan) gak nangis kalo gue gendong. Bangganya.. Gendong bayi itu enak, soalnya mereka itu wangi dan anget, kayak Dunkin Donuts baru dibeli. Yang penting sih jangan gendong mereka saat mereka gak pake pampers.


Akhir-akhir ini otak gue emang lagi sulit dioperasikan, mungkin karena liburan (yang kata orang-orang) kepanjangan? Menurut gue pribadi, tidak akan pernah ada liburan yang terlalu panjang. Gue mencintai liburan seperti hutan mencintai hujan. Terutama saat gue udah merasakan hidup jauh di sebuah ‘pedalaman’ bernama Jatinangor. Sumpah, gue nggak tau apakah ada orang yang pernah ngomong kayak gini, yang jelas kalo ada yang pernah ngomong, dia bener: You’ll never know what you have until you don’t have it anymore. Ya, tapi gak bener 100% sih, bener 50% aja. Soalnya, dari dulu, gue udah bersyukur bisa tinggal serumah dengan orang-orang yang dipilihin Tuhan buat jadi keluarga gue. Cuma, setelah tinggal jauh dari mereka—I still have them, anyway—gue jadi semakin bersyukur aja punya mereka. Gue bersyukur karena gue masih punya alasan untuk pulang ke Jakarta. Gue bersyukur karena gue masih bisa ngerasain kayak gimana rasanya kangen. Gue bersyukur karena gue masih punya orang-orang yang memacu semangat gue untuk bikin mereka bersyukur juga karena mereka punya gue.


Jujur, gue sering ngerasa bersalah sama orang-orang yang gue tinggalkan di rumah. Rumah pasti sepi atau mungkin rame karena mereka berpesta merayakan kepergian gue? Ah gak mungkin. Apalagi buat adik gue, gue sering ngerasa gak adil. Dulu, waktu gue seumuran dia, setiap gue bangun tidur, selalu ada dia. Setiap gue pulang sekolah, selalu ada dia. Gue ngerasa jahat karena sekarang, setiap dia bangun tidur, nggak selalu ada gue. Setiap dia pulang sekolah, nggak selalu ada gue juga. Sedih.. Tapi biarpun begitu, gue yakin, dengan adanya gue di tempat yang jauh dari dia saat ini, gue akan bisa memberikan dia sesuatu yang ‘lebih’ daripada sekadar kehadiran gue disaat dia bangun tidur atau pulang sekolah. Amin!

Buat maba Unpad yang barangkali nyasar ke postingan entah berantah ini; halo! Rame ya Jatinangor? Makanya doain gue cepet lulus dong, biar paling enggak oksigen di Nangor nggak habis karena jatah buat satu orang udah nggak diitung lagi berhubung orangnya pulang ke Jakarta. Muehehe. Buat maba-maba lainnya, selamat datang di kehidupan perkuliahan. Sudah berapa kali kalian berpikir pengen balik jadi anak SMA lagi?

Para maba menyerbu... (credit: PRABUnpad)


Makasih ya, buat siapapun yang dengan kehendaknya sendiri atau tidak (yang pasti dengan kehendak Tuhan), mampir dan baca-baca blog ini. Semoga gak nyesel dengan keputusan lo itu.

Pamit undur diri dulu. Sampai jumpa di cerita berikutnya, dimana gue akan menceritakan beberapa film yang gue tonton belakangan ini ditambah dua film yang baru 'akan' gue tonton. Jangan pernah lelah menunggu post baru di sini ya.

Adios!

No comments:

Post a Comment