September 25, 2012

Macaroni Schotel



I really know that I am not good at cooking, yet I am really good at eating them. My signature dish(es) are only scrambled egg and boiled noodle(that's so sad). I don't like spending my time at the kitchen, it is much easier to buy the food from restaurant, which the taste is guaranteed. But somehow, I thought it would be great to taste my own made food. I did googling, tried to find an easy Italian food recipe. Then I decided to make macaroni schotel, it seemed so easy and delicious(who doesn't love cheese or meat?). And I was succeeded! Me! A person like me! If I--a very beginner at cooking--can make it, why can't you, then? Here is the recipe. Believe me, this recipe is really easy.

·         INGREDIENTS:
  • Elbow macaroni; 250 g
  • Corned; 198 g. (medium can)
  • Smoked beef; 100 g.
  • Cheddar; 300 g.
  • Full cream milk; 700 ml.
  • Egg(s); 6.
  • Cooking oil; 2-3 teaspoon.
  • Garlic; 2.
  • Onion; 2.
  • Margarine.
  • Salt, pepper, and sugar.

·         HOW TO:
  • Boil the macaroni half-baked. Add 2-3 teaspoon of cooking oil so that the macaroni won’t stick. Throw the water away, keep the half-baked macaroni in a bowl.
  • Mince the garlic and the onion.
  • Heat the margarine, stir-fry the minced garlic and also minced onion until they smell good. Add the corned, smoked beef, some salt, some pepper and some sugar.
  • Cut 200 g of cheddar in cube-shape. Grate the other 100 g for topping.
  • Stir those 6 eggs in a bowl. Mix it with cube-shaped cheddar, half-baked macaroni, milk, and cooked meat (third step). Add some salt, pepper, and sugar.
  • Pour the dough into a brass.
  • You can bake it anyway. But if you have enough time, you can steam it first, then you bake it after it has already steamed. (You should set the time by yourself, because I used a conventional oven which do not have time setting)
Tara! The delicious macaroni schotel is ready to be served! I only spent below IDR 80.000 to make this food. How’s the taste? I gave this food to my big family and (yeah!) they loved it. My schotel is sold out for only 15 minutes after being served. :"""""D (tears of joy)

Here is the picture of that food! Haha, do not judge by its appearance, friends.



See ya in next post!~

September 19, 2012

Memaafkan


Semalam gue berbincang-bincang dengan seorang teman via sms. Teman gue ini, kita samarkan saja namanya menjadi Bunga. Jadi, Bunga memberitahukan kepada gue bahwa dia mendapatkan chat dari seorang teman kami semasa SMP dulu, sebut saja Rian(bukan nama sebenarnya)(jadi kayak reportase investigasi).

Semasa sekolah, Rian adalah anak yang cenderung dijauhi oleh gue dan teman-teman. Oke. Ini emang jahat, tapi yang namanya manusia memang pasti pernah salah, kan? Gue manusia juga loh, fyi. Jadi, anak-anak cewek menjauhi dia karena tidak mau dikatain, sementara anak-anak cowok seneng ngerjain dia. Sepengetahuan gue, hanya ada beberapa orang yang berteman dengan dia. Well, maybe it would have been so hard for him to survive. Denger-denger sih sejak lulus SMP, dia punya komunitas. Survival-nya yang sulit sudah berakhir sejak 4 tahun yang lalu, berarti. Seinget gue, kami udah pernah minta maaf, kok, ke dia.

Jadi, Bunga bercerita setiap detail chat-nya dengan Rian. Intinya, Rian berkata bahwa dia kepahitan(semacam benci karena kecewa) kepada teman angkatannya semasa SMP, berarti termasuk gue dan Bunga. Dia bilang, dia ingat betapa bencinya setiap orang yang harus duduk semeja sama dia, termasuk Bunga. Hal ini tentu saja membuat Bunga merasa tidak enak. Saat Bunga mengutarakan ke-tidakenak-annya kepada Rian, dia malah menjawab agar Bunga tidak perlu merasa tidak enak, dia juga bilang terima kasih buat sikap kami yang seperti itu terhadap dia.

JEGER! Gue tersentuh? Tidak sama sekali. Dia yang membawa-bawa permasalahan masa lalunya, dia yang memancing Bunga sampai Bunga merasa bersalah, kemudian dia juga yang dengan sok bijak menjawab seperti itu, seakan-akan dia tidak pernah mengungkit masa lalu yang mungkin memang kesalahan gue, Bunga, dan teman-teman lainnya. Seakan-akan Bunga tiba-tiba merasa tidak enak padahal Rian tidak pernah berkata apa-apa soal masa lalunya.

Dia pemaaf? Apakah orang yang memaafkan bertindak seperti itu? Menurut gue sih, enggak. Kalo seseorang udah memaafkan orang lain yang bersalah kepada dia dengan ikhlas, dia tidak akan pernah mengungkit-ngungkit lagi kesalahan orang itu di masa lalu. Kesalahan orang kepada kita, bukan merupakan hal yang bagus untuk diingat dan dikenang, apalagi kalo kesalahan itu sudah kita anggap termaafkan. Buat apa diungkit-ungkit lagi? Tujuan mengungkit-ngungkit kesalahan orang lain kepada kita di masa lalu itu menurut gue hanya ada dua. Satu, membuat orang itu merasa bersalah atau malu(lagi). Dan dua, karena kita ingin orang itu minta maaf(lagi).

Sikap Rian yang seperti itu, bagi gue adalah sebuah kemunafikan. Dengan mengungkit-ngungkit kesalahan kami di masa lalu, menurut gue, mungkin dia belum memaafkan kami. Dia yang memulai chat dengan Bunga, membahas kesalahan-kesalahan Bunga, kemudian saat Bunga merasa tidak enak, dia menjawab dengan jawaban yang seolah-olah Bunga-lah yang membahas semua kesalahannya sendiri. Kalo emang dia belum bisa memaafkan kami, kenapa dia nggak jujur aja? Dan kenapa juga dia harus berterima kasih segala? Biar orang-orang kagum sama ‘kemurahan hati’nya? Kalopun emang dia sudah memaafkan kami, perbuatannya tidak mencerminkan demikian. Gue masih belum percaya kalo dia sudah memaafkan. Yang penting gue udah pernah minta maaf. Dia mau memaafkan atau tidak, itu bukan urusan dia sama gue sih.... itu urusan dia sama Penciptanya.

Pokoknya, bila mungkin ada sebuah coincidence & orang yang gue maksud membaca post ini, gue berharap orang itu ngerti, kalo post ini gue buat bukan dengan maksud mengolok-olok dia, apalagi menghina. Gue cuma pengen memberitahukan dia cara memaafkan yang sesungguhnya menurut versi gue. Thank you!

September 15, 2012

Fakultas Ilmu Budaya


Belum lama ini gue melihat sebuah tweet di timeline twitter gue. Tweet tersebut adalah curahan hati seorang gadis mengenai dia dan perkuliahannya. Satu kalimat yang gue baca; ‘... Kalo masuk sastra juga nggak apa-apa deh.’ Kurang lebih demikian. (Gue retweet kok, bisa Anda baca, cari aja di profil twitter gue, @epitak. Pokoknya tidak lebih lama dari bulan Juli.)

Apakah pertanyaan ‘lulusan sastra mau jadi apa’ muncul di benak Anda? Jangan khawatir, Anda tidak sendirian, ada banyak orang yang juga mempertanyakan hal itu. Dan lebih-lebih jangan khawatir lagi, gue tidak marah, kok. Gue sendiri adalah seorang mahasiswa di jurusan sastra, tepatnya Sastra Inggris.


Cewek-masuk-sastra-juga-nggak-apa-apa itu (setelah gue retweet dengan ramah), berkata; ‘... Kan emang itu jurusan pelarian ya, kak?’ Ya, kurang lebih seperti itu. Pelarian? Maksudnya buangan, mungkin? Kenapa harus dijadikan sebuah pelarian? Sebuah buangan? Buat para calon mahasiswa yang menjadikan sastra sebagai pelarian, let me tell you something. Sastra itu tidak mudah. Bener, deh. Baru seminggu kuliah, gue udah ditugaskan membaca 3 buah karya tulis berbahasa Inggris. I love reading...........Indonesian stories. Susah banget rasanya buat gue untuk menyukai membaca cerita-cerita berbahasa Inggris. Dalam bahasa Inggris, sejujurnya gue hanya menyukai grammar dan spelling. Comprehension, or somehow, literature, adalah hal terberatnya. Serius deh, sekali lagi, sastra itu tidak mudah. Kalo dari awal hati lo ada di jurusan lain, terus lo terbuang di sastra? Lo bakal menjalani kuliah sastra dengan setengah hati (padahal susah! Ini bener-bener harus sepenuh hati), kemudian lo bakal terbuang dari jurusan yang lo jadikan buangan. Pasti sakit tuh. Intinya, yang lo butuhkan adalah keinginan dari hati, hati yang bergembira akan membuat semua jadi mudah, kok. #tsahh

Kembali ke pertanyaan ‘lulusan sastra mau jadi apa’. Gue rasa, sekarang bahasa merupakan ilmu yang bisa diterapkan di banyak sekali bidang. Di Unpad sendiri(gue kurang tau kalo di universitas lain), nama Fakultas Sastra sudah diganti menjadi Fakultas Ilmu Budaya pada tahun ini. Gelar sarjananya, S.Hum(Sarjana Humaniora), sudah bukan S.S lagi, setau gue, sih. Di sini, FIB terbagi menjadi 9 jurusan; Sastra Inggris, Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Perancis, Sastra Jerman, Sastra Rusia, Sastra Arab, Sastra Sunda, dan Ilmu Sejarah. Dan di sini juga, mahasiswa tidak hanya diberikan pengetahuan tentang sastra, tapi juga tambahan kompetensi berupa Diplomatik, Pariwisata, Wirausaha, dan Budaya. Jadi, lulusan FIB bisa kerja dalam keempat bidang itu juga. Ini sih, yang gue tau di Unpad. Khusus sastra Inggris, nanti di semester sekian(gue belum tau tepatnya), akan dibagi ke 3 major; Linguistics, Literature, dan/atau Translation. Kedengerannya keren-keren, ya?

Buat kalian yang takut dan/atau ngeri sama ospek mahasiswa yang kejam, masuklah ke FIB Unpad! Ospek mahasiswa biasanya dibagi tiga; ospek universitas, fakultas, dan jurusan. Ospek universitas, sih, kakak-kakaknya banyak yang pura-pura ngebentak. Tapi cuma sehari! Dan gak akan dimacem-macemin, gak pake atribut-atributan. Ospek fakultas, kalo untuk FIB sendiri, tidak ada senioritas, dikerjain, dimarahin, disuruh ini-itu. Di hari ospek fakultas, fakultas lain sih, teriak-teriak nyuruh maba-maba(mahasiswa baru) baris. Kalo FIB? Kita disambut dong, "Wilujeng sumping, selamat datang di Fakultas Ilmu Budaya...", plus senyuman para akang-tetehnya. Sampe akhir acara ospek fakultas(sekitar seminggu), gak pernah ada tuh, senior yang marah-marah. Nah, kalo ospek jurusan sih, jurusan gue(Sastra Inggris), seniornya asik semua, gaul-gaul. Dibandingkan jurusan-jurusan lain di FIB, Sastra Inggris ospek jurusannya paling nyantai, Bro.~

Oh iya. Kalo kalian mau masuk sini, jangan harap kalian bakal jadi ‘anak Bandung’, ya. Karena program sarjana FIB ada di kampus Unpad Jatinangor, bukan kampus Dipati Ukur atau kampus Dago. Jujur, gue ketipu. Kalo ada orang yang sering menganggap Depok itu di Jakarta, demikian pula hubungan Jatinangor dengan Bandung. Tapi, jangan khawatir. Kalo mau ke Bandung, lo hanya perlu naik bus Damri, dengan ongkos Rp. 5.000,- saja, lo bisa ngegaul ke Bandung, kok. FYI di Jatinangor tidak ada Starbucks, J.Co, Sushi Tei, Zara, dan lain-lain. Tapi ada gue. Lo pasti bahagia.

Gue udah ngelantur? Oke. Semoga post ini bisa memberikan pencerahan pada seluruh calon mahasiswa. See you in next post!

September 02, 2012

Kuliah Perdana


Please say hello to Jatinangor; and goodbyeuntil we meet again to Jakarta.

I left my hometown at 6 A.M. and arrived here at 10 A.M. by car, also accompanied by my lovely family. After we had lunch together, they should go back to Jakarta before noon—because traffic always happens in the evening. So here I am, alone, far from the people I love—but still, near with my loyal God. In a couple of hours, I have missed my home—where the people I love live—already. But this is not a goodbye. This is until we meet again. I promise, ASAP!

Gue bakal memulai studi di Universitas Padjadjaran.......besok. Yak. BESOK. KULIAH PERDANA. Tentu saja bakal berbeda 180 derajat dari kehidupan perkuliahan yang ada di ftv-ftv.

Gak bakal ada; gue lagi jalan kaki, terus ketabrak mobil mewah. Gue marah-marah, si pemilik mobil keluar—cowok cool. Tapi demi harga diri gue bakal tetep marah. Tiba-tiba ternyata kita sekelas. Tiba-tiba ternyata kita sekelompok. Dan banyak tiba-tiba lainnya, hingga 2 jam kemudian(as seen on tv) kita jadian. Gila banget.

Dan gak bakal ada; gue lagi lari-lari di koridor, tiba-tiba nabrak seorang cowok yang bawa segunung buku. Gue bantuin dia mungutin bukunya, terus gak sengaja tangan kita bersentuhan. Paling lama, 3 jam kemudian(again—as seen on tv) kita jadian. Gila banget. Gila banget-bangetan.

Yang ada; gue bakal stres nyari kelas. Kelas aja gue belom tau. Sumpah. Kenal temen sekelas aja, cuma kenal muka. Mampus. Double mampus. Malah katanya ada kuliah umum di gedung rektorat, lah. Ini kenapa dunia tidak semanis ftv sih??? Ditambah lagi, gue tidak dibekali sepeda motor kesayangan gue(oke, sebenernya gak sayang-sayang amat sih). Gue harus jalan kaki. IYA. JALAN KAKI. Terus naek angkot gratis/ odong-odongnya Unpad.

Pokoknya ada satu makna yang bisa diambil dari post yang tidak berbenang merah ini. Ada satu. KULIAH PERDANA TERDENGAR SANGAT HOROR. SANGAT-SANGAT HOROR. Gue cocoknya masih pake seragam putih abu-abu deh kayaknya, duduk-duduk seenaknyamanis di koridor sekolah, ngerjain orang yang lewat dengan bilang, “Woy! Seleting woy!”, tidak perlu tahu apa itu IPK, SKS, KRS, HIV, AIDS, dan sebagainya.

 Nongkrong-nongkrongduduk-duduk di koridor
Foto-foto
Foto-foto lagi
Foto-foto lagi-lagi

Tapi yang namanya waktu, ya nggak bakal bisa diulang. Yang udah terjadi, pilihannya tinggal dua; diteruskan sebaik-baiknya sampe orang tua bisa bangga, atau, ditinggalin dan nyusahin orang tua. Gue memutuskan pilihan pertama lebih baik. Gak mungkin juga tiba-tiba seenak jidat gue bilang, “Gak jadi kuliah di sini, ya,” hanya dengan alasan lemah, nggak bisa jauh dari keluarga, padahal uang belasan juta rupiah—hasil keringat ortu—telah mereka investasikan di sini, di tempat gue mencari bekal buat masa depan. #tsahh

Duh. Postnya makin ngalor-ngidul gini.
Dah! (kabur)