February 26, 2013

Bermain dan Menonton



Halo.
Maaf lama nggak ngepost. Gue khilaf. Ampun.
Maklum, gue sebenernya lagi berasa agak sibuk, karena gue harus bikin sebuah naskah film untuk UKM gue di Unpad. Ceritanya tentang senyuman. Tapi, karena cerita dari gue itu belum matang (bahkan naskahnya belom gue selesaikan), kemarin (25/2) gue membuat naskah baru dari cerita punyanya senior di UKM. Jadi, dia ceritain, dan gue menjadikannya naskah. Dan naskah itu jadi dalam kurang dari dua jam (kurang ajar banget kan, giliran cerita sendiri, naskahnya gak jadi-jadi). Ayo bilang wow!
Judul post ini kayak judul lagu barunya Maliq ya.... (Itu mah Berlari dan Tenggelam.....) KRIK!

Oh ya. Kemaren (21/2) gue pulang ke Jakarta dan menghabiskan empat hari tiga malam di sana. Sangat tidak cukup. Gue butuh lebih—sangat lebih, daripada itu.

Di hari Jumat (22/2), gue bermain bersama teman-teman seperjuangan di SMA (Amay, Anita, Atika, Atil, Pupuk), di CL. Pertemuan kali ini bener-bener nggak direncanakan, spontan, dan begitu aja, tiba-tiba jadi. Padahal, dari dulu, kita sering banget bikin janji dan ujung-ujungnya nggak jadi. Pupuk udah jadi cemob (cewek mobil) yang handal. Meskipun waktu masuk mol, ngambil karcis parkirnya harus turun dari mobil dulu, tapi dia berhasil melewati tantangan dari Atika (<-- cewek yang membuat kami nyasar): ngelewatin pasar antah berantah. Kami makan di Pizza Hut, dan waktu mau mesen pake perhitungan ekonomi dulu dari Atil & Anita yang notabene merupakan mahasiswi yang 'masih' belajar Matematika sampe sekarang. Yang laen udah lupa caranya ngitung (mungkin kecuali Pupuk, dia kan anak guru Matematika)! Dan jangan lupakan eye contact yang tercipta antara Amay & abang-abang tukang gali di jalan belakang CL. Mereka masih 98% sama! 2%-nya itu, mereka udah beda, sekarang gak ada yang pake seragam putih abu-abu dan ke 33 setiap Senin sampai Jumat. Itu aja. :')

Oke. Bukan itu yang mau gue bahas. Jadi, di CL, kami menonton Rectoverso, sebuah film produksi Indonesia. Dari film itu, menurut gue yang berhasil ‘ngena’ itu, ya cerita pertama, Malaikat Juga Tahu. Bercerita tentang Abang, seorang pemuda penderita autis dengan quote-nya (quote?) “Senin putih rabu gelap”, “Kurang satu! Kurang satu!” atau “Seratus sempurna, kamu satu, lebih, lebih sempurna”. Bahkan, beberapa penonton nangis di klimaks cerita ini (well done, Lukman Sardi!). Yang lainnya belum bisa ‘ngena’ menurut gue. Firasat, bercerita tentang cewek yang semacem kena sindrom Final Destination gitu. Bagian taman dengan bangkunya, menurut gue klise abis. Ngapain gitu, baca buku aja harus goes sepeda jauh-jauh sampe ke taman sepi? Bangkunya bagus, sih. Cerita Cicak Di Dinding, menurut gue cerita dewasa, dengan adegan-adegan yang tidak terlalu bisa dinikmati oleh mata dan jiwa gue. Ditambah lagi gue geli sama cicak! Kalo Curhat Buat Sahabat, jujur, membosankan bagi gue. Karena sesuai judulnya, isi cerita itu.... ya, curhat. Curhat mulu, nangis mulu, ditelponin mulu. Yang terakhir, Hanya Isyarat, bikin gue pengen main air di pantai.

Dan pandangan gue tentang film Indonesia lagi-lagi tidak berhasil diubah oleh film ini. Jadi, sampai saat ini menurut gue, film Indonesia itu terbagi dua. Yang satu, film-film yang kelasnya tinggi—yang bikin gue pusing karena nggak ngerti dan suka pake kata-kata puitis. Yang satu lagi, film-film yang kelasnya rendah—yang bikin gue ogah nonton dan hobinya masukin adegan panas (yang bukannya bikin panas, malah bikin sakit mata). Gue rasa, gue butuh film yang kelasnya menengah. Bukan standar loh ya, dan bukan film-film yang ngejiplak film luar juga. Kelas menengah di sini adalah, ya film.... mm, gue gak menemukan kata yang tepat. Ya, pokoknya gitu, lah. Tau deh. (Hah?)

Setelah nonton Rectoverso, gue kok jadi ngerasa kalo film Indonesia yang berkualitas biasanya berbentuk seperti cerita pendek yang dipotong-potong dan digabung-gabung, ya? Kayak Cinta Setaman, misalnya. Atau paling enggak, terdiri dari cerita pendek yang ternyata punya hubungan, semacem Berbagi Suami. I am still waiting for Indonesian movies to change my thoughts about them. Gue sih maunya, film buatan gue sendiri, yang ngubah pola pikir gue sendiri. :p

Gimana? Pola pikir kalian sama nggak kayak pola pikir gue? Atau guenya aja yang terlalu aneh? Feel free to share your thoughts about Indonesian movies here, friends! Doain semoga produksi film pendek gue lancar, ya (it will be started in March 1st!).

See you soon!


P.S. Buat yang mau nonton Rectoverso, perhatiin bagian Abang kabur buat nyari sabun, deh. Awalnya, bajunya dimasukin rapi, terus keluar, terus masuk lagi. :p
P.P.S. Pintu kamar kos di kos-kosan Ibunya Abang, mirip pintu kamar kos gue! (Penting banget, Vit..)
P.P.P.S. Semua judul film Indonesia yang gue tulis di post ini bagus. Rectoverso, Cinta Setaman, and Berbagi Suami; you guys have to watch them all. Terutama Berbagi Suami.

No comments:

Post a Comment